foto

REUTERS/Cheryl Ravelo

Dipicu Krisis Yunani, Rupiah Melemah  

TEMPO.CO, Jakarta - Mengecilnya kemungkinan penyelesaian krisis utang Yunani membuat dolar Amerika Serikat semakin digdaya. Imbasnya mata uang utama dunia kembali melemah terhadap dolar AS, yang memicu pelemahan rupiah dan mata uang Asia lainnya.

Dalam transaksi pasar uang antarbank di Jakarta hari ini, Kamis, 3 November 2011, nilai tukar rupiah ditutup melemah 27 poin (0,3 persen) ke posisi 8.977 per dolar AS. Rupiah bahkan sempat melemah hingga di atas 9.000 per dolar AS hari ini.

Menurut pengamat pasar uang dari PT Pacifik Duaribu Futures, Abidan Saragih, menjelang pertemuan G-20 di Cannes, Prancis, serta ketidakjelasan prospek ekonomi Eropa seiring dengan ditundanya dana talangan Yunani membuat para pelaku pasar melepas mata uang yang dianggap berisiko. Mereka lebih nyaman memegang dolar AS yang dianggap lebih aman.

Pernyataan pejabat Cina yang menunda keikutsertaannya dalam penyelamatan Uni Eropa juga membuat para pelaku pasar cemas. Eropa saat ini sangat membutuhkan pertolongan dari Cina yang mempunyai cadangan devisa terbesar di dunia, lebih dari US$ 2 triliun. “Meskipun Eropa tidak mau mengakui hal tersebut secara terang-terangan,” tutur Abidan.

Rencana Yunani menggelar referendum untuk penghematan anggaran kembali mementahkan langkah penyelamatan krisis Eropa. Hal itu mencuatkan kembali kecemasan pasar finansial global, sehingga investor kembali memburu aset aman seperti dolar dan obligasi AS.

Indeks dolar AS terhadap enam mata uang rival utamanya hingga pukul 17:12 WIB berada di level 76,91, atau melemah tipis 0,108 poin (0,15 persen) dari posisi Rabu. Di pasar Asia Kamis siang indeks dolar AS sempat naik hingga ke level 77,5.

Dolar Singapura sore ini ditutup melemah 0,1 persen, won Korea selatan turun 0,71 persen, peso Filipina terkoreksi 0,73 perse, serta ringgit Malaysia melemah 0,65 persen.

VIVA B. KUSNANDAR