Bayu Krisnamurthi. TEMPO/Amston Probel
Topik
Wamen Bayu: Belum Pasti Impor Beras dari India
TEMPO.CO, Jakarta - Wakil Menteri Perdagangan Bayu Khrisnamurti menyatakan, tim Bulog masih berburu beras di India. Ia mengakui salah satu kendalanya adalah masalah negosiasi harga dengan para pengusaha.
"Masih sedang berburu (beras impor), sekarang timnya sedang di India," ujar Bayu usai memberi keterangan pers di auditorioum Kementerian Perdagangan, Kamis, 3 November 2011.
Menurut Bayu, tim Bulog di India yang diketuai oleh Direktur Utama Perum Badan Urusan Logistik Sutarto Alimoeso sedang melakukan negosiasi business to business dengan para pengusaha. "Jadi, goverment enggak ikut-ikut ya, ini b to b," ujarnya. Hasil negosiasi belum bisa diketahui hingga saat ini.
Sejak awal bulan kemarin, Indonesia terus berburu beras impor. Ide penjajakan ini berawal dari pernyataan India pada awal bulan ini yang menyatakan siap untuk mengekspor beras. Bulog kemudian melakukan kalkulasi dengan Menteri Perdagangan dan Duta Besar India yang ada di Indonesia.
Tidak hanya berburu beras impor India, Indonesia juga melakukan penjajakan kontrak impor beras ke Kamboja. Bulog melakukan penjajakan ke Kamboja karena negara ini kelebihan stok beras. Kelebihan produksinya mencapai 2 juta ton. Padahal, jumlah penduduk Kamboja hanya 14 juta jiwa.
Penjajakan-penjajakan impor beras yang dilakukan tim Bulog tersebut adalah dampak dari ketidakjelasan kontrak dengan Thailand.
Kontrak Bulog dengan Thailand sebenarnya sudah tuntas. Namun, setelah terjadi pergantian tampuk kepemimpinan kepala negara di Thailand, kontrak tersebut kembali ditinjau ulang. Pemerintah baru Thailand meminta renegosiasi harga baru pada Bulog. Tapi Bulog masih keberatan.
Dalam data Bulog, hingga pada 10 Oktober 2011, stok cadangan beras pemerintah mencapai 516.633 ton. Setelah dikurangi untuk korban bencana alam sebanyak 6.955 ton dan pengendalian harga beras sebanyak 91.767 ton.
Bulog berencana menambah stok cadangan beras sebanyak 517.133 ton. Angka ini masih kurang dari saran tim Universitas Gadjah Mada yang menyarankan, cadangan beras pemerintah yang wajar berkisar antara 750.000 ton hingga 1,3 juta ton. Karena itu, stok beras akan ditambah kurang lebih 300.000 ton lagi nanti.
Soetarto menjelaskan, sebenarnya Bulog sendiri ditargetkan menyetok beras hingga 1,6 juta ton tahun ini. Stok yang bisa dipenuhi hingga saat ini mencapai 1,35 juta ton. Vietnam disebut sudah komit 300 ribu ton. Kemudian rencana kontrak beras dengan Thailand sebesar 300 ribu ton.
FEBRIANA FIRDAUS





