TEMPO/Hariandi Hafid
Topik
Bosowa Fokus Produksi Semen Multiguna
TEMPO.CO, Jakarta - Mulai 2012, PT Semen Bosowa akan memfokuskan dalam usaha memproduksi semen jenis Portland Possoland Cement (PCC) atau multiguna. Produksi ini untuk membantu percepatan pembangunan infrastruktur dan properti di Sulawesi Selatan.
"Awalnya Bosowa mengembangkan Ordinary Portland Cement (OPC) atau semen tipe 1. PCC hadir dengan fungsi dan tujuan yang sama dengan OPC yang lebih ramah lingkungan," kata Head Quality PT Semen Bosowa Maros, Nasaruddin Made, Jumat, 4 November 2011.
Jenis PCC ini, menurut Nasaruddin, untuk mendukung pembangunan konstruksi bangunan, seperti perumahan, pelabuhan, jalan beton, irigasi, gedung tinggi, dan jembatan yang membutuhkan teknologi beton berkinerja tinggi.
Perubahan kebijakan produksi dari OPC ke PCC, menurut Nasaruddin, untuk memenuhi kebutuhan pasar yang makin tinggi. Saat ini produksi semen multiguna ini telah mencapai 93 persen, sementara OPC hanya dibatasi sekitar 7 persen.
"Kalau dulu produksi OPC mencapai 93-95 persen, kini dibalik lebih fokus pada PCC untuk peruntukan produk yang lebih ramah lingkungan," ucap Nasaruddin.
Semen multifungsi ini akan diproduksi sebesar 180-200 ribu ton per bulan, untuk jenis kemasan 40-50 kilogram, jumbo ukuran 1-2 ton, dan jenis curah. Khusus kebutuhan semen kemasan 50 kg akan diproduksi sebanyak 50 persen dan 40 kg sebesar 30 persen dari total produksi.
Rencananya, untuki semen multiguna, pada 2012 Bosowa akan memproduksi PCC sebanyak 2,2 juta per tahun. Sedangkan untuk jenis OPC akan tersisa sekitar 5 persen dari total produksi setiap tahun. "OPC tipe 1 hanya diproduksi jika ada permintaan khusus dari kontraktor. Pastinya kami hanya fokus pada PCC," jelas Nasaruddin.
Head of Sales PT Semen Bosowa Maros Firdaus Husain menjelaskan, kapasitas terpasang pabrik 1,8 juta ton per tahun. Pada 2012, Bosowa akan merambah pasar di Indonesia Barat yang akan dilayani pabrik semen milik Bosowa yang ada di Batam. Pabrik ini mampu memproduksi semen setengah jadi sebesar 1,2 juta ton.
Sementara pabrik di Maros kapasitasnya ditingkatkan menjadi 2,2 juta ton per tahun dengan pencapaian sekitar 80 persen. Kenaikan kapasitas untuk memenuhi kebutuhan Sulawesi Selatan dan Kawasan Timur Indonesia dengan pertumbuhan pasar 6-7 persen.
"Kami berencana menyasar pasar di kawasan barat Indonesia yang akan disuplai dari pabrik semen di Batam," ucap Firdaus.
Peningkatan produksi itu, kata Firdaus, sangat membutuhkan suplai listrik dari Perusahaan Listrik Negara yang mencapai 10 megawatt. Namun, di kawasan pabrik telah disiapkan Captive Power (genset) untuk cadangan guna mendukung kekurangan energi listrik di pabrik.
Kepala Divisi Penjualan Ismail memaparkan wilayah pemasaran semen, selain di Sulawesi dan KTI, juga telah masuk di Papua, Maluku, NTT, NTB, Bali, Jawa Timur, dan sebagian DKI Jakarta.
SULFAEDAR PAY





