foto

Presiden SBY (kiri) dan Ibu Ani Yudhoyono pada upacara peringatan HUT RI ke-65 di Istana Negara, Jakarta (17/8). TEMPO/Subekti

Siapa Capres Demokrat? Ani SBY, Djoko, Anas ...

TEMPO.CO, Jakarta - Siapa sesungguhnya calon presiden dari Partai Demokrat pada Pemilu 2014? Meski banyak nama tokoh yang dijaring dan beredar di antara kader partai berlambang tiga berlian itu, namun politikus Partai Demokrat, M. Jafar Hamzah, belum bisa memastikan siapa mereka.

"Kami masih melihat keinginan masyarakat melalui polling independen dan sahih dalam pelaksanaannya," kata Jafar Hafsah, yang juga Ketua Fraksi Partai Demokrat di DPR, Ahad, 6 November 2011.

Polling itu, kata Jafar, dilihat selama beberapa bulan terakhir. Sejumlah nama, kata Jafar, sempat muncul sebagai pengganti Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono. Nama-nama itu di antaranya Ani Yudhoyono, Edhie Baskoro Yudhoyono, Anas Urbaningrum, dan Menko Polkam Djoko Suyanto. "Namun dari internal kami belum mengadakan survei atas nama-nama yang muncul itu."

Meski begitu, kata Jafar, melihat perkembangan politik dan kecenderungan masyarakat saat ini, menguat dua calon presiden potensial. Kedua nama itu adalah Kristiani Yudhoyono atau istri Presiden SBY dan Menko Polkam Djoko Suyanto. "Lagi-lagi, kami belum mengajukan calon," ujarnya. "Pengajuan baru tahun 2013."

Jafar menegaskan, dalam penentuan calon, tidak ada dikotomi calon presiden tua dan muda dalam Partai Demokrat. Siapa pun yang mendapat simpati rakyat akan dipertimbangkan untuk menjadi calon presiden.

Menanggapi partai lain yang sudah mulai memunculkan calon presiden, seperti Partai Golkar yang memajukan Aburizal Bakrie dan Partai Gerindra yang memajukan Prabowo Subianto, Jafar masih menganggapnya sebagai hal yang wajar. Menurut dia, setiap partai punya cara sendiri dalam memprioritaskan program.

Khusus mengenai pencalonan Aburizal dari Partai Golkar yang dinilai semakin gencar, Jafar menilai sebagai hal biasa. "Tidak apa-apa kalau Golkar ajukan lebih dahulu, tergantung bagaimana masyarakat dan harapan publik kalau dia yang pimpin bangsa dan negara."

IRA GUSLINA