Salman bin Abdel-Aziz. AP/Hassan Ammar
Topik
Pangeran Salman Jadi Menteri Pertahanan Arab Saudi
TEMPO.CO, Dubai - Pangeran Salman bin Abdelaziz dari Arab Saudi ditunjuk sebagai Menteri Pertahanan yang baru, menyusul kematian kakak laki-lakinya pada 22 Oktober lalu. Posisi ini dipegang mendiang Putra Mahkota Sultan Bin Abdul Aziz selama hampir lima dasawarsa.
Keputusan itu diumumkan Kerajaan Arab Saudi, Sabtu, 5 November 2011. Dalam keputusan itu, seperti dikutip kantor berita Arab News, juga memisahkan Kementerian Pertahanan dari Kementerian Penerbangan. Kerajaan juga memutuskan menunjuk Pangeran Khaled sebagai wakil Salman di Kementerian Pertahanan. Saat ini, Khaled adalah Asisten Menteri Pertahanan dan Penerbangan.
Pangeran Salman sendiri adalah anggota keluarga kerajaan paling senior ketiga setelah kakak tirinya, Raja Abdullah, dan kakak kandungnya, Putra Mahkota Nayef yang kini menjadi Menteri Dalam Negeri. Berusia 76 tahun, Pangeran Salman sebelumnya adalah Gubernur Provinsi Riyadh selama hampir 50 tahun sejak 1962. Sebagai gubernur, Salman dinilai sukses menjadikan Riyadh dari kota menengah menjadi kota metropolitan.
Jabatan Gubenur Riyadh dianggap sebagai salah satu jabatan sangat penting di negara itu. Sebelumnya, jabatan itu dipegang oleh dua putra mahkota Sultan dan Nayef dan juga oleh Pangeran Salman.
Posisi baru ini kemudian ditempati Pangeran Sattam bin Abdelaziz. Satam sebelumnya adalah wakil Salman di Gubernuran Ryadh.
Menjadi Menteri Pertahanan Arab Saudi yang baru, Salman akan mengawasi satu kementerian dengan pos pengeluaran tertinggi di negara kerajaan itu. Apalagi Arab Saudi dikenal memiliki salah pasukan tentara dengan persenjataan terbaik di Timur Tengah. Militer Arab bahkan sukses memakai ''pembelian'' senjatanya untuk mendongkrak hubungan dengan kawasan Barat, seperti Amerika Serikat, Inggris, dan Prancis.
Pangeran Salman, seperti dikutip Reuters, sering dikatakan sebagai anak laki-laki yang paling mirip dengan Raja Abdelaziz secara fisik, dari tinggi dan parasnya, dan ia luar biasa dihormati di antara suku-suku, kata Robert Lacey, pengarang dua buku mengenai kerajaan itu.
"Sebagai Gubernur Riyadh, ia di tengah (wilayah sentral kekuasaan) Nejd, sehingga para kepala suku telah lama melihatnya sebagai bak perlindungan dan kehormatan regional."
Reuters juga menulis, suksesi di Saudi memang memiliki keunikan. Tak seperti monarki di Eropa, suksesi di Saudi tidak lewat secara langsung dari ayah ke anak laki-laki tertua, tapi menuruni garis bersaudara putra-putra pendiri negara itu, Raja Abdelaziz Ibn Saud, yang meninggal pada 1953.
Karenanya, menurut kolomnis Arab Saudi, Hossein Shobokshi, kepada Reuters, Raja Abdullah tidak menunjuk wakil perdana menteri kedua, peran yang dipegang Nayef, 77 tahun, sejak 2009 dan dianggap sebagai sama dengan wakil putra mahkota.
"Tidak ada kebutuhan untuk memenuhi peran itu, tapi tebakan semua orang adalah bahwa Pangeran Salman adalah dalam giliran setelah Nayef," kata Hossein Shobokshi.
WDA | ARABNEWS | REUTERS





