ANTARA/Rosa Panggabean
PLN dan Antam Minati Inalum
TEMPO.CO, Jakarta - Setelah Kementerian Badan Usaha Milik Negara menyatakan minatnya untuk mengambil alih saham PT Indonesia Asahan Alumunium, sekarang giliran dua perusahaan di bawah Kementerian yang menginginkannya.
PT Perusahaan Listrik Negara dan PT Aneka Tambang Tbk kabarnya berniat mengambil alih saham perusahaan yang saat ini saham mayoritasnya masih dikuasai oleh Konsorsium Pengusaha Alumunium Jepang (NAA). "Antam dan PLN masih berminat. Tetapi ini tergantung kepada Bapak Menteri BUMN," ujar Deputi Menteri BUMN Bidang Manufaktur dan Industri Strategis, Irnanda Laksanawan, di Jakarta, Senin, 7 November 2011.
Menurutnya, Kementerian akan mengambil alih perusahaan setelah melihat bentuk usaha Inalum lebih jauh lagi. Kemungkinan, kata dia, perusahaan meminati proyek power plant yang dijalani Inalum.
Persoalan ini, kata Irnanda, akan lebih jelas setelah diadakannya audit anggaran Inalum yang berlangsung pada 2012. Nantinya, Menteri BUMN akan berkoordinasi dengan Menteri Koordinator Perekonomian dan Menteri Keuangan untuk memecahkan masalah pembelian saham Inalum ini. "Bisa jadi kami memegang saham Inalum atau menjadi pemegang aset tunggal di sana," jelasnya.
Meski belum jelas rencana mengambil alih saham Inalum, Irnanda mengatakan,Kementerian tengah bersiap untuk membeli nilai aset yang harus dibeli kembali. Nilai aset Inalum diperkirakan mencapai US$ 700 juta. Sekitar US$ 500-600 juta dimiliki perusahaan itu. Namun sisanya dimiliki pemerintah senilai US$ 200 juta atau Rp 2 triliun. "Komisi VI kan sudah menyetujui pengalokasian dana Rp 2 triliun untuk APBN 2012," kata Irnanda.
Inalum adalah perusahaan aluminium smelter, hasil kerja sama Indonesia dengan Konsorsium Pengusaha Aluminium Jepang (NAA) sejak 1975. Perjanjian akan berakhir pada 2013.
Master agreement, yang menjadi dasar Inalum, dinilai banyak merugikan Indonesia sehingga pemerintah mengambil keputusan untuk mengakhiri perjanjian pengelolaan Inalum dengan Jepang pada tahun lalu.
Berdasarkan data Refleksi Akhir Tahun Kementerian BUMN, komposisi kepemilikan saat kerja sama Inalum dimulai adalah Indonesia sebesar 10 persen dan NAA 90 persen. Namun terjadi perubahan pada 1987 sehingga komposisi pemegang saham terdiri atas Indonesia 41,12 persen dan NAA 58,88 persen.
SUTJI DECILYA





