foto

Kaligrafi

Musim Haji, Tukang Kaligrafi Ketiban Rezeki

TEMPO.CO, Sumenep - Tumpukan karton, gabus, tripleks, dan puluhan kaleng cat minyak berserakan di teras rumah Faik Rahman, warga Desa Mandala, Sumenep, Madura, Senin, 7 November 2011.

Karton dan gabus sebagian sudah dipotong menjadi rangkaian kata dan gambar pria bersorban menunggang unta hingga lukisan pohon kurma. Itulah beberapa karya Faik sejak sebulan terakhir. Musim haji membuat jebolan pesantren ini melepas status penganggurannya untuk sementara waktu.

Keisengan Faik belajar kaligrafi selama di pesantren empat tahun lalu membuatnya kebanjiran order membuat tulisan dan kaligrafi. Apalagi musim haji seperti sekarang. "Alhamdulillah, selama musim haji sementara saya enggak nganggur," kata Faik kepada Tempo.

Musim haji tahun ini, kata Faik, ada 8-10 pemesan karyanya setiap hari. Sebagian besar pemesan adalah jemaah haji dari luar desanya. Karena bisa dibilang rezeki musiman, lelaki berusia 22 tahun ini pun sengaja tidak membagi ordernya ke teman-temannya. "Semua saya kerjakan sendiri, nanti kalau sudah dibayar, baru traktir teman-teman," ujar Faik yang masih melajang.

Soal biaya, Faik tidak memasang target. Honornya diukur dari tingkat kesulitan pesanan, kemampuan ekonomi, dan keikhlasan para pemesan. "Biasanya saya dikasih 100 hingga 200 ribu. Kalau pemesan kenalan dekat, paling dikasih rokok tiga bungkus," paparnya sembari tertawa.

Faik mengaku tidak terlalu ahli membuat kaligrafi. Dia menduga banyaknya pemesan karyanya karena dirinya tidak mematok bayaran. Berapa pun diberi, Faik tidak menolak. "Saling bantu saja," ungkapnya.

Salah satu pemesan kaligrafi Faik adalah Mulyadi, warga Dusun Jatian, Kecamatan Ganding. Bagi Mulyadi, keberadaan orang seperti Faik saat musim haji sangat perlu karena hiasan kaligrafi akan memperlengkap suasana kemeriahan penyambutan jemaah haji. "Kalau tidak ada hiasan kaligrafinya, suasana penyambutan haji kurang lengkap," katanya.

MUSTHOFA BISRI