Pialang di Bursa Efek Indonesia, Senin (11/5). Otoritas bursa menggelar acara ''Investor Day'' selama dua hari (11-12 Mei) untuk mempertemukan manajemen perusahaan tercatat (emiten) dengan pemegang saham, termasuk analis dan fund manager. Tempo/Panca S
Infografis
Jumlah Emiten di Indonesia Memprihatinkan
TEMPO.CO, Jakarta - Pemerintah menyatakan keprihatinannya melihat sedikitnya jumlah perusahaan yang melantai di Bursa Efek Indonesia. Tahun ini saja, baru sebanyak 18 perusahaan yang resmi melantai di bursa.
Wakil Menteri Keuangan Mahendra Siregar mengatakan, Indonesia kurang dapat memanfaatkan kondisi krisis perekonomian global, dan mengantisipasi aliran dana yang masuk ke dalam negeri atau capital inflow. "Jumlah emiten memprihatinkan. Apalagi melihat initial public offering pada 2011," kata Mahendra di Jakarta hari ini, Rabu 9 November 2011.
Membaiknya pergerakan indeks harga saham gabungan tidak bisa menjadi acuan, apabila substansinya tidak kelihatan.
Perusahaan Badan Usaha Milik Negara dan swasta, menurut Mahendra harus lebih banyak lagi melakukan penawaran sahamnya ke publik atau initial public offering. Dia meyakinkan bahwa gejolak perekonomian global yang sangat tidak menentu saat ini tidak bisa jadi alasan bagi perusahaan takut go public.
Sampai saat ini setidaknya ada 435 perusahaan mencatatkan namanya di bursa. Dari angka itu, 18 perusahaan melakukan penawaran saham perdana ke publik tahun ini.
Asisten Deputi Bidang Usaha Industri Strategis dan Manufaktur II Kementerian Badan Usaha Milik Negara Gatot Trihargo mengatakan, untuk melakukan proses IPO, kementerian harus mengkaji lebih dalam. "Kami harus melihat kinerja perusahaan yang akan melakukan IPO," kata dia.
Dari 140 perusahaan pelat merah, sampai saat ini baru 18 perusahaan yang go public. Rencananya pada tahun depan, kata Gatot, Kementerian BUMN akan mendorong lima hingga tujuh perusahaan melakukan IPO. Namun setiap perusahaan harus melewati kajian yang dilakukam kementerian terlebih dulu. "Kajian harus menyeluruh. Jangan sampai kejadian seperti PT Krakatau Steel dan PT Garuda Indonesia terulang kembali," katanya.
Pentingnya banyaknya emiten di Indonesia juga ditanggapi oleh Ketua Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan Nurhaida. Menurut dia, dengan banyaknya emiten, pilihan investasi di Indonesia akan lebih bervariasi. "Ini pun sejalan dengan keinginan kami untuk mengantisipasi capital inflow," kata dia.
Menurut Nurhaida, investor akan berpikir kembali jika banyak capital inflow yang masuk namun pilihan emiten tidak beragam. "Karena tidak ada produk yang sesuai atau cukup besar," ujarnya.
Hal serupa dikatakan Mantan Kepala Badan Kebijakan Fiskal Anggito Abimanyu meminta perusahaan BUMN maupun swasta melakukan penawaran sahamnya ke publik, dan menerbitkan obligasi global. Langkah ini dinilai bisa meningkatkan investasi di dalam negeri, selain juga membantu perusahaan dalam melakukan aksi korporasi, ataupun ekpansi usaha. "Investor harus didorong untuk masuk investasi jangka panjang," kata Anggito.
SUTJI DECILYA | EVANA DEWI | ERWINDAR





