foto

TEMPO/Panca Syurkani

Konsumsi Baju Bakal Melorot

TEMPO.CO, Jakarta - Lembaga Survei Konsumen Nielsen meramalkan, prospek industri tekstil bakal suram tahun depan. Hal ini disebabkan rendahnya minat konsumen untuk membeli pakaian.



Managing Director of Consumer Group Nielsen Indonesia, Catherine Eddy menyatakan, berdasarkan survei daring yang dilakukan pada 30 Agustus hingga 16 September lalu, diperoleh hasil bahwa minat mereka untuk berbelanja baju cenderung rendah.


Karena permintaan berkurang, produsen baju dan industri tekstil akan memotong produksi. "Dampak lebih jauh ialah pemutusan hubungan kerja karyawan pabrik," ujarnya di Jakarta, Rabu 9 November 2011.


Survei ini merupakan bagian dari jajak pendapat Nielsen pada 28 ribu konsumen di 56 negara Asia Pasifik, Eropa, Amerika Latin, Timur Tengah, Afika, dan Amerika Utara. Di Indonesia, survey dilakukan pada 500 responden yang mewakili 29,9 juta masyarakat pemilik akses internet.


Survei membuktikan, 68 persen masyarakat Indonesia cenderung suka menyimpan uangnya. Hanya 18 persen saja yang ingin membeli baju baru karena selebihnya memilih menghabiskan uang untuk berlibur, membeli rumah, membeli gadget hingga investasi saham.


Bahkan, jika keadaan ekonomi kurang menguntungkan tiga hal pertama yang dilakukan adalah menghemat energi, mengurangi belanja baju serta mengurangi jajan di luar rumah.


Menanggapi hasil survei ini, Ketua Asosiasi Pertekstilan Indonesia Ade Sudrajat mengaku tidak khawatir. Rendahnya permintaan baju bukan karena turunnya minat, melainkan anjloknya daya beli.


Di sisi lain, produsen tekstil dalam negeri mendapat kompetitor yang cukup berat yakni produk impor dari Cina yang lebih murah. "Akhirnya, produk impor yang dipilih konsumen," kata dia.


Tahun lalu kata Ade, nilai impor tekstil Cina mencapai US$ 400 juta. Tahun ini, impor diperkirakan mencapai rekor terbesar yakni US$ 4 miliar. Kontras dengan ekspor tekstil Indonesia ke Cina yang hanya mencapai US$ 600 juta.


FEBRIANA FIRDAUS