TEMPO/Wisnu Agung Prasetyo
Topik
Tawaran Barter Impor Beras India Belum Diputuskan
TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Perdagangan Gita Wirjawan menyatakan bahwa permintaan India untuk menukar impor beras dengan penurunan bea keluar ekspor kelapa sawit (CPO) tidak mungkin dilakukan. Ia belum memutuskan sikap atas penawaran itu.
"Saya rasa enggak bisa dikait-kaitkan seperti itu," ujar Gita, Rabu, 9 November 2011.
Sebelumnya, kabar barter impor beras dengan BK CPO ini ini diberitakan oleh kantor berita Reuters pada Kamis pekan lalu, setelah pertemuan antara Perum Bulog Indonesia dan pemerintah India sehari sebelumnya di New Delhi-India. India menyatakan ingin menjual beras sebanyak 500.000 ton, dengan syarat Indonesia mau memotong biaya bea keluar ekspor CPO.
Tapi hingga saat ini, kata Gita, kementeriannya belum menentukan sikap tersebut. Meski demikian, negosiasi impor beras, kata Gita, diserahkan pada Bulog.
Sejak awal bulan kemarin, Indonesia terus berburu beras impor. Ide penjajakan ini berawal dari pernyataan India pada awal bulan ini menyatakan siap untuk ekspor beras. Bulog kemudian melakukan kalkulasi dengan menteri perdagangan dan duta besar India yang ada di Indonesia.
Tidak hanya berburu beras impor India. Indonesia juga melakukan penjajakan kontrak impor beras ke Kamboja. Alasan Bulog melakukan penjajakan ke Kamboja, karena Kamboja kelebihan stok beras. Kelebihan produksinya mencapai 2 juta ton. Padahal jumlah penduduk Kamboja hanya 14 juta jiwa.
FEBRIANA FIRDAUS





