foto

Umat muslim melempar jumroh Aqobah di Jamarat, Mina, Mekkah, Arab Saudi, (6/11). Selain itu mereka akan melempar jumroh Ula dan Wustho. AP/Hassan Ammar

Ini Keluhan Jemaah Haji kepada Ketua DPR  

TEMPO.CO, Jakarta - Ketua DPR Marzuki Alie mengaku prihatin dengan pelayanan terhadap jemaah haji pada tahun ini. Menurut Marzuki yang tengah berada di Arab Saudi, sejumlah jemaah mengeluhkan pelayanan konsumsi dan kebersihan tempat tinggal. Marzuki mengaku mendapatkan laporan diare massal jemaah haji asal Surabaya.

"Di Maktab 71 Surabaya, terjadi diare berjamaah, lebih dari 100 orang jemaah terkena diare," ujarnya melalui pesan singkat kepada wartawan, Kamis, 10 November 2011.

Kejadian ini diduga karena makanan dan minuman serta sampah yang bertebaran akibat tidak cepat dibersihkan oleh pihak maktab/ muassasah. Marzuki mengatakan, sejumlah makanan yang diberikan pihak maktab diindikasikan basi. "Hasil penelitian tim kesehatan, ternyata nasinya hangat, tapi bau dan berlendir karena ternyata nasi lama dimasak lagi,” kata dia.

Selama di Mekah, Marzuki menampung keluhan-keluhan jemaah haji. Marzuki merupakan Ketua Tim Pengawas Pelaksanaan Haji DPR. Pada sidak 7 November lalu, lanjutnya, ia menerima keluhan dari jemaah Maktab 27 Kloter 18 Ujung Pandang.

"Sejumlah jemaah dari Maluku mengaku mendapati standar katering jauh lebih rendah dari tahun 2007," ujarnya." Tidak ada makanan tambahan, seperti beberapa tahun yang lalu ada mi instan yang tinggal diseduh dengan air dan langsung bisa dimakan. Buah-buahan, gula, dan teh saja habis di tengah jalan.”

Masalah kebersihan juga menjadi sorotan. Ia mengaku menemukan sampah makanan yang tak diangkut, bahkan sampai dua hari. "Tidak ada petugas kebersihan sehingga sampah makanan sampai dengan dua hari menumpuk dan menimbulkan bau yang sangat tidak sedap," ujarnya. Lalat dan nyamuk pun berkeliaran akibat kebersihan tak terjaga.

Jemaah banyak mengeluhkan soal fasilitas kamar kecil yang tak secara khusus disediakan untuk jemaah haji asal Indonesia. "Kurangnya fasilitas WC sehingga sangat padat dan parahnya di maktab ini. WC juga digunakan orang Afrika, India, dan lain-lain. Maktab tidak ada yang menjaga. Jemaah seperti dipaksa mengambil nafar awal sehingga maktab tidak perlu memberi makan satu hari  agar untung besar,” dia menambahkan.
 
Politikus Partai Demokrat ini juga mendapatkan keluhan dari jemaah haji asal Kloter 62 Madiun. Jemaah mengeluhkan tidak ada petugas dari Indonesia yang mengatur atau mengawasi jemaah yang datang dari Arafah. "Ini memberi kesan penelantaran,” ujar Marzuki.

Jemaah asal Kabupaten Bogor mengaku mendapati tenda yang sangat berdebu. Seharusnya tenda disemprot dulu. Selain itu, “Di Arafah, jemaah yang mendapatkan tenda di ujung harus berhadapan dengan nyamuk yang ganas," jelasnya. Jemaah juga mengeluhkan soal transportasi yang disediakan di Muzdalifah. "Antrean di Muzdalifah, dibangunkan jam 12, berangkat jam 3. Yang berada di BIBAN dianggap ring 1, jaraknya 3 km tanpa angkutan,” tegasnya.

FEBRIYAN