foto

TEMPO/Aditia Noviansyah

110 Pelajar Palembang Dikerahkan sebagai Suporter

TEMPO.CO, Palembang - Puluhan sekolah dengan jumlah 110 pelajar di Palembang disiapkan oleh pemerintah setempat untuk menjadi suporter  berbagai cabang olahraga negara asing dalam SEA Games XXVI 2011.

Sekolah Menengah Kejuruan Negeri (SMKN) I Palembang, sebagai contoh, menjadi salah satu sekolah yang dijadikan pendukung bagi atlet Myanmar. Layaknya sekelompok pendukung militan, mereka mendapatkan pelatihan singkat seputar yelyel pembangkit semangat para atlet.

"A kaung sone ye pa say," salah satu kata yang sudah sangat fasih diucapkan oleh pelajar SMKN I Palembang. Kata-kata yang bermakna "Kita pasti menang" tersebut didapat mereka dari Sekretaris Jenderal Federasi tinju Myamar, Tin Hlaing, setiap menjelang pertandingan bagi kontingan Negara Myanmar. Mereka juga juga diberi kaus, syal, dan bendera Myanmar.

Nyayu, salah seorang siswa, mengatakan ia tetap akan mendukung Myanmar meski tengah berhadapan dengan atlet Indonesia. “Hari ini kami jadi orang Myanmar, siapa pun lawannya akan kami dukung sepenuh hati, “ kata Nyayu, Ahad, 13 November 2011.

Tin Hlaing merasa terbantu dengan kehadiran suporter dari kalangan pelajar di Palembang. Menurut Hlaing, timnya tidak mendatangkan suporter khusus dari negaranya. “Mereka sangat profesional, jadi kami bangga pada mereka,” ujar Hlaing di sela-sela mendapingi tim tinju menggelar latihan di arena tinju Jalan POM IX Palembang.

Sejumlah pelajar tingkat SMP hingga SMA disiapkan oleh Pemerintah Kota Palembang untuk menjadi pendukung atau suporter dari setiap kontingan SEA Games XXVI di Palembang. Pihak sekolah menyiapkan ratusan muridnya untuk diturunkan kapan dan di mana pun diminta oleh kontingan.

Kepala sekolah SMKN I Palembang, Zulkarnain, mengatakan sekolahnya dipilih untuk menjadi suporter lantaran sekolah tersebut terletak di jantung kota, sehingga mempermudah akses bagi siswa untuk bepergian menuju venue, baik di Jakabaring Sport City maupun di Jalan POM IX.

Zulkarnain yakin kegiatan menjadi suporter asing merupakan ajang pembelajaran bagi murid-muridnya. “Kami juga memberi dispensasi bagi murid yang diturunkan,” kata Zulkarnain. Dia tidak memedulikan imbalan yang bakal diperoleh siswa dari kontingan Myanmar ataupun Inasoc. “Yang penting bagi kami selalu tersedia sarana transportasi. Jangan biarkan mereka menunggu terlalu lama,” ujar Zulkarnain.

PARLIZA HENDRAWAN