TEMPO/Eko Siswono Toyudho
Topik
Premium Diusulkan Naik Rp 5.500
TEMPO.CO, Jakarta - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral mengusulkan agar harga bensin premium dinaikkan menjadi Rp 5.500 per liter. Harga tersebut berlaku untuk seluruh kendaraan pribadi maupun kendaraan umum.
"Bagi pemilik mobil pribadi bukan kategori mobil mewah yang tidak mau membeli Pertamax, sedangkan khusus untuk angkutan umum nanti bisa diberikan cash back Rp 1.000 per liter," kata Wakil Menteri Energi Widjajono Partowidagdo, Senin, 14 November 2011.
Langkah pemberian cash back pada angkutan umum tersebut dilakukan bukan hanya untuk mengurangi beban operasional angkutan umum, tetapi juga untuk mengurangi potensi terjadinya lonjakan inflasi.
Lebih jauh, pemerintah juga berencana untuk melakukan pengalihan penggunaan bahan bakar minyak di sektor transportasi ke bahan bakar gas. Kendaraan angkutan umum dan kendaraan pribadi yang tidak ingin menggunakan Pertamax diharapkan bisa beralih menggunakan gas.
Untuk mempermudah proses menuju ke sana, pemerintah bisa membantu dalam pengadaan converter kit. "Mungkin untuk kendaraan pribadi bisa diberi diskon 50 persen dari harga konverter, untuk angkutan umum diberikan gratis," katanya. Harga konverter kendaraan saat ini rata-rata Rp 10 juta per unit. Sehingga dengan bantuan 50 persen harga, maka masyarakat bisa mendapatkannya dengan harga Rp 5 juta per unit.
Sedangkan untuk masyarakat golongan mampu yang tetap memilih menggunakan bahan bakar minyak, tidak akan dipaksa untuk menggunakan gas asalkan membeli bahan bakar nonsubsidi. "Kalau mereka pilih pakai Pertamax silakan. Kalau tidak mau dan ingin hemat silakan pakai gas," ujarnya.
Namun, saat ini langkah menuju ke sana tampaknya masih menghadapi kendala kesiapan infrastruktur. Bahkan, sebagian kontraktor gas masih lebih senang menjual gas ke luar negeri dari pada untuk memenuhi kebutuhan domestik.
Untuk mengurangi ekspor sekaligus menarik masuknya investor, diharapkan harga gas dalam negeri bisa lebih kompetitif. "Seperti harga gas untuk Transjakarta masih Rp 3.100. Kalau dinaikkan menjadi Rp 4.100 harganya masih lebih murah dibanding menggunakan BBM. Investor juga akan lebih tertarik masuk karena bisa untung," katanya.
AGUNG SEDAYU





