Presiden Susilo Bambang Yudhoyono berpidato dalam pertemuan APEC di Honolulu, Hawaii, (12/11). REUTERS/Jason Reed
Indonesia Lahan Potensial bagi Investor
TEMPO.CO, Jakarta - Indonesia dinilai masih menjadi lahan yang menarik bagi para investor untuk menanamkan modalnya. Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Ahmad Erani Yustika mengatakan, pasar di Indonesia besar, sumber daya melimpah, dan tenaga kerja mencukupi. "Dari aspek itu saja, kita sudah memiliki daya tarik investasi yang besar,” kata Erani di hari ini Senin, 14 November 2011 Jakarta.
Selain itu, ketidakstabilan perekonomian di zona Eropa dan Amerika pada saat ini akhirnya juga mendorong beralihnya sejumlah investasi ke negara-negara emerging market, termasuk Indonesia. Secara teori, Indonesia juga dinilai sangat berpeluang memperoleh investment grade. Namun begitu, Indonesia belum bisa memperoleh pengakuan di level internasional karena ada beberapa faktor yang menghambat.
Menurut Erani, ada kekurangan dalam beberapa aspek yang dinilai menjadi penghambat Indonesia memperoleh investment grade ataupun bagi investor untuk berinvestasi, di antaranya infrastruktur yang tidak memadai, proses perijinan yang berbelit, ataupun kepastian birokrasi. Oleh karena itu, pemerintah harus segera membenahi sejumlah aspek tersebut jika ingin mempercepat atau memperbesar realisasi investasi ke Indonesia.
Jika dilihat dari porsi investasi asing dan domestik, ada ketimpangan yang sangat besar. Porsi investasi asing di Indonesia saat ini sekitar 80 persen jika dibandingkan investasi domestik yang sekitar 20 persen. Menurut Erani, perbandingan yang sangat timpang tersebut menggambarkan perekonomian Indonesia yang terlalu bergantung pada investasi asing.
Pemerintah diharapkan bisa memberi sejumlah kemudahan bagi para investor domestik, contohnya dalam hal bantuan pembebasan lahan, tax holiday, jaminan bagi hasil yang menarik, ataupun bantuan penguasaan lahan. Melalui bantuan tersebut, Erani berharap pada tahun 2025 porsi investasi domestik bisa sebanding dengan investasi asing.
Ahad kemarin Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono didampingi Menteri Perdagangan RI Gita Wirjawan, mengadakan pertemuan dengan para Chief Executive Officers (CEOs) Indonesia dan Amerika Serikat. Pertemuan berlangsung di sela acara APEC CEO Breakfast Meeting, di Honolulu, Hawaii, Amerika Serikat.
Para CEOs tersebut saling menyampaikan ketertarikannya untuk menjalin kerjasama bisnis antar kedua negara. Beberapa CEOs asal Amerika, seperti P&G dan Marvel sempat menyampaikan konsep bisnis dan investasinya kepada pemerintah di Indonesia. Pemerintah juga sebelumnya sempat melakukan pertemuan dengan Frank Mars, CEO dari Mars. Mars tahun depan akan mendirikan pabrik pengolahan biji coklat menjadi coklat di Indonesia. Selain itu, kedua pihak juga membahas mengenai pertumbuhan hijau (green growth).
EVANA DEWI





