Krisis di Amerika Serikat juga menjadi ancaman.
Penghentian Ekspor Rotan Belum Dibahas dengan Bea Cukai
TEMPO.CO, Jakarta - Kebijakan menghentikan ekspor rotan oleh Menteri Perdagangan Gita Wirjawan belum sampai pada tahap teknis. Direktur Jenderal Bea dan Cukai Kementerian Keuangan Agung Kuswandono mengatakan koordinasi di antara kedua instansi belum dilakukan. “Belum (ketemu), masih cari waktu yang tepat,” katanya melalui pesan pendek kepada Tempo Senin 14 November 2011.
Wakil Menteri Perdagangan Bayu Krisnamurti membenarkan bahwa kebijakan ini belum dilaksanakan. Menurut dia kebijakan tersebut sedang dibuatkan turunan peraturan yang lebih rinci. “Terkait rotan secara komprehensif sedang dibahas lintas departemen,” kata dia.
Saat ini tarif bea keluar rotan, menurut Agung, mencapai 15 persen dari harga. Sentra produsen rotan adalah Sulawesi Barat, Sulawesi Tengah, dan Kalimantan Tengah. Namun menurut Agung pengepul rotan terbesar berada di Cirebon Jawa Barat. Adapun ekspor terbesar rotan ke Malaysia dan Eropa.
Sebelumnya, Deputi Menteri Koordinator Perekonomian Bidang Perdangan dan Perindustrian Edy Putra Irawady mengatakan ekspor rotan secara mendadak berisiko besar. Menurut dia jika dihentikan total pengrajin rotan Indonesia tidak mampu menyerap seluruh hasil rotan di Indonesia. Edy mengatakan sebelum Presiden SBY merombak kabinet, di bawah koordinasi Kementerian Koordinasi Perekonomian, Kementerian Kehutanan, Perindustrian dan Perdagangan pernah melakukan kajian terhadap ekspor rotan. Hasil koordinasi tersebut adalah pilihan menghentikan ekspor rotan total atau bertahap. “Hasil tersebut sudah disampaikan ke menteri-menteri,” katanya pekan lalu.
Kalangan pelaku industri rotan dalam negeri berharap larangan ekspor rotan segera diterbitkan. Dewan Pakar Asosiasi Mebel dan Kerajinan Rotan Indonesia Soenoto menyayangkan sikap Kamar Dagang dan Industri (Kadin) yang menolak rencana penghentian ekspor rotan. "Penolakan (larangan ekspor) itu adalah bukti bahwa Kadin tidak mendukung industri rotan dalam negeri untuk maju," katanya.
Soenoto menilai penghentian merupakan solusi tepat menyehatkan kembali industri rotan dalam negeri. Pasalnya, langkah pembukaan kembali ekspor rotan sejak 2005 telah menyebabkan industri rotan dalam negeri babak-belur. Sedikitnya enam daerah sentra industri rotan di Jawa dan luar Jawa mati karena kesulitan mendapatkan bahan baku serta kalah bersaing dengan produk rotan Cina, yang menjadi penguasa pasar rotan asal Indonesia. Soenoto yakin, jika ekspor rotan dihentikan, dalam waktu 1-2 tahun industri rotan dalam negeri akan pulih dan kembali mampu menyerap seluruh produksi rotan.
AKBAR TRI KURNIAWAN





