foto

Emirsyah Satar (kanan) dan Rahmat Gobel. TEMPO/Aditia Noviasnyah

Di Dubai, GMF Panen Kontrak

TEMPO.CO, Jakarta -  Lawatan jajaran direksi PT Garuda Maintenance Facilities AeroAsia ke Dubai tak sia-sia. Pada hari ke dua ajang pameran Industri dirgantara, “Dubai Airshiw 2011,”  Senin 14 November 2011 anak perusahaan PT Garuda Indonesia ini panen kontrak kerjasama.

MIDEX Airlines, maskapai yang berbasis di Sharjah, Uni Emirates Arab menyerahkan perawatan pesawatnya kepada PT GMF AeroAsia. Kesepakatan ini tertuang dalam kontrak kerja sama yang ditandangani oleh Wakil Direktur Utama GMF Agus Sudaryo dan Georges Ibrahim selaku Direktur Operasional MIDEX Airlines di Dubai kemarin.

Kerja sama dengan maskapai yang melayani penerbangan kargo ini bukan yang pertama karena MIDEX pernah menyerahkan perawatan armadanya kepada GMF AeroAsia sebelumnya.
 
Menurut Agus Sudaryo kerjasama dengan MIDEX Airlines diharapkan bisa meningkatkan reputasi GMF AeroAsia di pasar perawatan di Timur Tengah. “Penetrasi pasar Timur Tengah dapat lebih mudah jika kita mendapat kepercayaan dari airlines besar di kawasan ini,” kata Agus dalam siaran pers yang diterima Tempo, Senin 14 November 2011.
 
Pada hari, dan tempat yang sama Direktur Utama PT GMF AeroAsia Richard Budihadianto, dan Ananta Wijaya selaku Direktur Teknik Sriwijaya Air menandatangani kontrak kerja sama perawatan engine CFM 56-3 pesawat B737NG.

Menurut Richard Budihadianto, armada Sriwijaya Air menjalani berbagai perawatan di GMF mulai perawatan ringan seperti A-Check, perawatan level menangah seperti C-Check, hingga perawatan besar yakni D-Check atau Overhaul.

PT GMF AeroAsia juga mendapat kepercayaan dari Rayyan Air International. Maskapai asal Pakistan ini menyepakati kontrak jangka panjang berdurasi tiga tahun. Rayyan Air merupakan airlines charters Pakistan yang mempunyai cabang di Uni Emirat Arab. Maskapai yang beroperasi sejak tahun 1987 ini mengoperasikan pesawat tipe B747 untuk mendukung servicesnya yang mencakup charter dan cargo. “Kepercayaan ini merupakan langkah penting pengembangan GMF dalam menggarap pasar Asia Selatan,” kata Agus Sulistyono.

Sebagai modal awal mendapatkan kepercayaan dari customer, GMF AeroAsia memiliki sertifikat approval dari DKUPPU (Indonesia), EASA selaku otoritas penerbangan sipil Eropa dan FAA selaku otoritas penerbangan sipil Amerika Serikat. Dua sertifikat approval ini merupakan syarat yang harus dimiliki bengkel pesawat untuk masuk pasar Eropa. “GMF merupakan satu-satunya perusahaan MRO di Indonesia yang memiliki sertifikat approval EASA dan FAA,” katanya.

SUTJI DECILYA | ERWINDAR