foto

Tempo/Agung Pambudhy

Chef Farah Quinn Suka MPV Berukuran Besar

TEMPO.CO, Bali - “Kenyamanan akan memberikan energi yang besar dalam mencapai prestasi” begitulah prinsip yang selama ini dipegang oleh chef seksi, Farah Fauzan Quinn atau yang biasa disapa Farah Quinn. Lantaran itulah, ibu muda kelahiran Bandung, 8 April 1980, itu memilih segala sesuatu berdasar  pertimbangan kenyamanan, namun tetap rasional.



“Aku selalu berprinsip seperti itu dalam memilih sesuatu, termasuk pekerjaan dan sarana penunjang kegiatanku khususnya mobil,”  tutur Farah saat berbincang dengan Tempo, di Hotel Maya Ubud, Bali, Senin , 14 November 2011.



Untuk tunggangan itu,  jebolan jurusan Keuangan, Indiana University of Pennsylvania, Amerika Serikat , itu mengaku menyukai Multi Purpose Vehicle (MPV) ukuran besar. Beberapa kali berganti mobil, Farah selalu memilih MPV tipe seperti itu.



Saat ini Farah menggunakan Toyota Vellfire, setelah sebelumnya menunggangi Toyota Alphard.  Selain kabinnya lega, tingkat kegetaran yang minim, serta kebisingan yang nyaris tidak ada, kedua MPV itu dinilai memberikan kenyamanan yang tinggi.



“Soalnya aku kan punya jadwal padat, sehingga mobilotas juga tinggi kan? Makanya, aku harus bisa tidur di mobil dengan nyaman, bisa selonjoran. Selain itu, semua perlengakapan juga terangkut,” papar chef yang mememulai karirnya di restoran Lydia’s Pittsburg, sebuah restoran Italia sohor di Pittsuburgh, Pennsylvania itu.



Tak cuma itu. Tenaga dari mesin yang besar, serta kemampuan menembus kemacetan jalanan ibukota merupakan keunggulan lain kedua MPV itu yang mendapat nilai plus di matah Farah.



Namun, Carson Quinn itu tak berminat untuk melakukan ubahan di bagian eksterior maupun interior mobil. Alasannya cukup sederhana, selain telah menyuguhkan kenyamanan yang diinginkan, dirinya juga tak ingin ribet dengan segala tetek bengek tambahan perangkat dan aksesoris. “Justeru nggak nyaman, kalau aku harus disibukkan mencari tambahan aksesoris ini itu dan segala perawatannya,” kata dia.



Terlebih Farah yang mengaku mulai menyetir mobil sejak umur 14 tahun itu, juga jarang sekali menyetir sendiri mobil. Selain merasa miris dengan kondisi jalanan, dia juga harus berhemat tenaga agar tetap fit di tengah seabrek kesibukannya.



 



ARIF ARIANTO