REUTERS/Thierry Roge
Topik
Euro Kembali Melemah Setelah Lelang Obligasi Italia
TEMPO.CO, New York — Dolar Amerika Serikat (AS) kembali memperpanjang penguatannya terhadap euro pada transaksi Senin kemarin setelah biaya lelang obligasi Italia mencapai level tertingginya sejak 1997.
Selain itu, para pelaku pasar juga khawatir bahwa pemerintahan teknokrat baru di Roma juga masih menghadapi tantangan yang serius untuk dapat mengisolasi Italia yang merupakan negara terbesar ketiga di kawasan Uni Eropa dari ancaman krisis utang. Kecemasan ini kembali membebani bursa saham karena investor kembali mengalihkan ke Greenback (sebutan bagi dolar) serta obligasi AS sebagai safe haven.
Dalam transaksi Senin kemarin, mata uang euro melemah 0,24 persen menjadi US$ 1,3620 dari posisi penutupan pasar New York akhir pekan lalu di US$ 1,3745. Euro bahkan sempat melemah hingga ke level US$ 1,3590. Di pasar Asia, euro kembali melemah 0,23 persen menjadi US$ 1,3602.
Dolar AS juga menguat 0,038 poin (0,05 persen) menjadi 77,111 per dolar AS. Poundsterling Inggris juga melemah 0,0026 (0,16 persen) menjadi US$ 1,5885 sehingga indeks dolar AS terhadap enam mata uang utama dunia siang ini naik 0,078 poin (0,1 persen) menjadi 77,647.
Euro sempat bangkit dari kejatuhannya pertengahan minggu lalu setelah adanya harapan Italia dipimpin oleh ekonom dan mantan komisi Eropa, Mario Monti, akan mampu menerapkan langkah penghematan dan reformasi ekonomi. Perubahan dituntut oleh para mitra Italia agar dapat menyakinkan investor bahwa Negeri Pizza tersebut bisa mengendalikan beban utang.
“Pada tahap ini, meskipun transisi politik berjalan kondusif dan kemungkinan pemerintahan teknokratis yang dipimpin oleh Monti mendapat dukungan yang luas, namun perubahan dan perbaikan bisa langsung mengatasi semua masalah utang Italia,” ujar Geoffrey Yu, ahli strategi mata uang dari UBS. Masih adanya ketidakpastian ini akan tetap menempatkan euro pada level yang lebih lemah terhadap dolar AS.
Italia melakukan lelang obligasi senilai 3 miliar euro dengan tenor 5 tahun dengan imbal hasil mencapai 6,29 persen, lebih tinggi dibandingkan dengan lelang di bulan Oktober lalu 5,32 persen.
“Tingginya biaya surat utang ini mengindikasikan bahwa investor tetap waspada, tidak hanya pada kemampuan Monti melakukan reformasi Italia, tetapi juga terhadap makin melebarnya jangkauan krisis utang,” ujar Andew Wilkonson, Kepala Strategi Ekonomi di Miller Tabak.
Imbal hasil (yield) obligasi Italia bahkan sempat menembus di atas 7 persen minggu lalu karena meningkatnya ketegangan politik serta dinaikkannya persyaratan margin. Imbal hasil obligasi dengan tenor 5 tahun meningkat 24 basis poin menjadi 6,59 persen mengikuti tingginya imbal hasil lelang obligasi terbaru. Sedangkan untuk tenor 10 tahun turun menjadi 0,02 persen menjadi 6,68 persen, menurut FactSet Research.
Imbal hasil obligasi Spanyol dengan tenor 10 tahun naik 0,01 persen mendekati 6 persen untuk pertama kalinya sejak awal Agustus lalu. Spanyol, Italia, Perancis melakukan lelang obligasi pekan ini dan investor akan melihat seberapa besar kemampuan negara tersebut untuk mendanai mereka sendiri, menurut Forex.com.
MARKETWATCH/VIVA B. KUSNANDAR





