TEMPO/Wisnu Agung Prasetyo
Topik
Thailand Tetap Berkomitmen Ekspor Beras ke Indonesia
TEMPO.CO, NUSA DUA: - Pemerintah Thailand memastikan tetap berkomitmen mengekspor beras ke Indonesia sesuai perjanjian terdahulu. "Tentu saja. Kami tetap berkomitmen untuk itu," ujar Direktur Jenderak Departemen Negosiasi Perdagangan, Kementerian Perdagangan Thailand, Srirat Rastapana pada Tempo, Selasa, 15 November 2011.
Srirat menjelaskan sebetulnya Thailand tidak pernah membatalkan rencana ekspor beras ke Indonesia, seperti yang ramai diberitakan di media beberapa waktu belakangan ini. Yang ada, telah terjadi kesalahan administratif dalam penandatanganan nota kesepahaman antara Indonesia dan Thailand tentang perberasan.
"MoU ditandatangani oleh pemerintah yang secara legal tak eligible" kata Srirat." Kesalahan teknis ini yang membuat pemerintahan baru Thailand tidak bisa menjalankan nota tersebut,"
Untuk mengatasinya, pemerintah Thailand telah mengamandemen dan menyesuaikan nota kesepahaman perberasan ini. "Kami menyiapkannya untuk bisa ditandatangani di sela-sela agenda ASEAN Summit pekan ini."
Srirat juga yakin tak ada halangan kedua negara untuk menandatangani nota tersebut. "Penundaan ekspor beras dari Thailand ini sebetulnya bukan merupakan negosiasi kedua negara. Jadi tidak akan ada masalah. Tidak ada juga perubahan tentang volume beras yang akan di-MoU-kan," kata Srirat.
Sebelumnya diberitakan, pemerintah Thailand membatalkan ekspor beras ke Indonesia karena ada pergantian pemerintahan negara gajah putih itu.
Pemerintahan Yingluck Shinawatra membatalkan penjualan 300 ribu ton beras ke Indonesia yang sebelumnya disepakati pemerintahan lama. Badan usaha logistik Thailand meneken nota kesepahaman terkait impor beras pada pertengahan Agustus lalu. Kesepakatan ini akan berlaku efektif bila Menteri Perdagangan ikut menandatangani.
Merespon hal tersebut, belakangan pemerintah India yang ingin mengekspor beras ke Indonesia dikabarkan tengah menegosiasikan untuk meminta penurunan bea masuk kelapa sawit (CPO). Pasalnya India menawarkan beras ke Indonesia dengan harga yang lebih murah ketimbang Thailand.
Lebih jauh ia mengungkapkan tidak dipungkiri bahwa banjir di Thailand secara tidak langsung akan mempengaruhi produksi beras, tapi tidak terlalu besar. Sebab pemerintah sudah mengambil langkah-langkah untuk mengatasi banjir dengan sistem bendungan.
Tahun ini Bulog mendapat izin untuk mengimpor beras 1,6 juta ton untuk memenuhi kekurangan pengadaan beras dalam negeri dan untuk keperluan cadangan beras nasional. Hingga akhir bulan lalu, Indonesia masih kesulitan mendapatkan sumber beras impor, setelah Thailand dilanda banjir dan belum memberi kepastian ekspor.
Dengan tambahan beras dari Vietnam dan India, Bulog optimistis sampai akhir tahun stok beras di gudangnya bisa mencapai 1,5 juta ton.
R. R. ARIYANI





