foto

TEMPO/Subekti

US$ 409 Miliar, Dana Subsidi Bahan Bakar Dunia  

TEMPO.CO, Jakarta - Badan Energi Internasional (International Energy Agency/IEA) mencatat, seluruh negara di dunia telah menghabiskan dana US$ 409 miliar untuk mensubsidi konsumsi bahan bakar fosil, seperti minyak, gas, dan batu bara sepanjang tahun lalu. "Separuhnya dipakai untuk bahan bakar minyak," kata Direktur Eksekutif IEA, Maria Van Der Hoeven, dalam World Energy Outlook, Rabu, 16 November 2011.

Berdasarkan catatan IEA, biaya subsidi tersebut membengkak seiring naiknya harga minyak dunia selama 2010. Terdapat setidaknya 37 negara di dunia yang menerapkan kebijakan subsidi bahan bakar, tetapi 15 negara menyatakan keluar dan tidak menerapkan kebijakan subsidi akibat terus naiknya biaya subsidi tersebut.

Tanpa adanya perubahan pola konsumsi energi, subsidi untuk bahan bakar fosil ini diperkirakan mencapai US$ 660 miliar pada 2020. Pemberian subsidi ini dinilai hanya memanjakan masyarakat untuk konsumsi yang sia-sia. Apalagi pemberian subsidi bahan bakar minyak terus-menerus hanya akan memperlambat pengembangan teknologi untuk energi baru-terbarukan yang lebih rendah emisi.

Bagi negara importir, subsidi minyak hanya akan menambah beban sangat signifikan di anggaran keuangan negara mereka. Sementara bagi negara eksportir, hal tersebut akan mempercepat pengurangan sumber daya alam sehingga pendapatan ekspor bahan bakar mereka terus turun. "Subsidi bahan bakar ini ternyata hanya dinikmati oleh 8 persen dari 20 persen masyarakat miskin yang ada di dunia," kata Maria.

Subsidi untuk bahan bakar minyak di Indonesia juga membengkak. Tahun 2010 pemerintah harus mengeluarkan dana sekitar Rp 90 triliun. Sementara, tahun ini negara setidaknya harus memiliki dana sebesar Rp 120 triliun untuk mensubsidi BBM kepada masyarakat. Secara total, berdasarkan APBN 2011, subsidi untuk energi di Indonesia mencapai sekitar Rp 200 triliun, termasuk di dalamnya untuk subsidi listrik.

Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Widjajono Partowidagdo, mengatakan konsumsi bahan bakar minyak di negara ini memang masih cukup tinggi.

Setidaknya setiap hari Indonesia perlu mengimpor sebanyak 600 ribu barel minyak untuk mencukupi kebutuhan konsumsinya. "Ini merupakan tantangan bagi Indonesia untuk mengurangi ketergantungan atas bahan bakar minyak," ujarnya.

Indonesia sendiri memiliki visi 25-25 dalam bauran energi nasionalnya, yaitu pada 2025 ditargetkan sebanyak 25 persen energi baru terbarukan sudah dapat dioptimalkan dalam bauran energi nasional. Dalam upaya pengurangan konsumsi bahan bakar minyak, Indonesia juga terus gencar mengupayakan konversi bahan bakar minyak ke bahan bakar gas.

Saat ini, pemerintah terus mengupayakan proses percepatan pembangunan infrastruktur gas untuk menunjang program tersebut. Di antaranya adalah pembangunan tiga terminal regasifikasi terapung yang berada di Jakarta, Semarang, dan Medan.

Indonesia juga tengah merancang program pengaturan konsumsi bahan bakar minyak untuk mengendalikan konsumsi bahan bakar minyak di masyarakat. Targetnya, program pembatasan BBM ini dapat diterapkan secara efektif mulai tahun depan.

GUSTIDHA BUDIARTIE