foto

REUTERS/Samrang Pring

Perubahan Iklim Tantangan Berat Peningkatan Produksi Beras

TEMPO.CO, Jakarta - Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Kementerian Pertanian Haryono mengatakan, perubahan iklim telah banyak mengganggu produksi pangan dunia, termasuk Indonesia. Ini menjadi pekerjaan dan tantangan yang berat bagi pemerintah demi mencapai target surplus 10 juta ton beras pada 2014.

“Banyak peluang yang masih tertimbun dan belum bisa digarap secara optimal. Ini yang harus kita gerakkan,” kata Haryono dalam kata sambutannya pada acara Pekan Pertanian Spesifik Lokasi 2011 di Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi, Bogor, Kamis, 17 November 2011.

Angka Ramalan (ARAM) III Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan produksi padi tahun ini turun 1,63 persen dari 68,06 juta ton gabah kering giling (GKG) menjadi 65,39 juta ton GKG. Ini diakui menjadi peringatan banyak pihak. Selain harus lebih bekerja keras, juga perlu meningkatkan koordinasi.

Apalagi dengan perubahan iklim, kalender tanam berubah secara dinamis. Selain itu, banyak lahan telantar yang hingga kini belum dioptimalkan. “Program kerja apa saja yang bisa dibangun saat perubahan iklim berubah hebat harus dijawab dengan program aksi yang proporsional di lapangan,” katanya.

Untuk itu, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian meluncurkan buku pertanian spesifik lokasi. Buku tersebut memuat tipologi lahan, daerah irigasi hulu-hilir, dan jenis komoditasnya. Badan Litbang Pertanian juga akan mendorong model kawasan rumah pangan lestari (KRPL). Sejak diluncurkan di Sidoarjo, pengembangan KRPL yang semula hanya 35 kepala keluarga (KK) di Pacitan kini sudah mencapai 700 KK.

Menurut Haryono, setelah dua pekan peluncuran acara antisipasi perubahan iklim oleh Presiden RI di Sidoarjo itu, peserta KPPL bertambah 70 KK, tiga bulan kemudian menjadi 650 KK, dan kini sudah 700-an KK.

ROSALINA