AP Photo/Charles Dharapak
Topik
Infografis
Foto Terkait
Para Aktivis Menyambut Obama dengan Demo
TEMPO.CO, Denpasar - Sehari setelah kedatangan Presiden Amerika Serikat Barack Obama di Bali, aktivis lembaga swadaya masyarakat menggelar aksi unjuk rasa di Konsulat Amerika di Denpasar, Jumat, 18 November 2011. Aksi diawali di parkir timur Lapangan Renon, Denpasar. Ratusan aktivis kemudian berjalan kaki menuju gedung konsulat yang berjarak sekitar 1 kilometer.
Arak-arakan diawali oleh dua orang pengunjuk rasa yang membalur seluruh badannya dengan cat dan membawa bola dunia. Ia diiringi rombongan yang membawa poster dan spanduk yang antara lain bertulisan, ”Jangan Intervensi Kedaulatan Kami”, “Amerika Uruslah Dirimu Sendiri”, dan “Tuntaskan Masalah Papua, Usir AS”.
“Kami berdiri di sini untuk menegaskan keberanian melawan Anda, Mr. Obama,” kata I Gusti Ngurah Karyadi dari Konsorsium Pembaharuan Agraria (KPA) dalam orasinya. Ia juga meminta Presiden Susilo Bambang Yudhoyono berani menyatakan hal serupa kepada Obama. “Sebab, kapitalisme dan pasar bebas versi AS hanya akan menyengsarakan rakyat,” ujar dia.
Setelah itu silih berganti para pengunjuk rasa melakukan orasi sesuai dengan bidang garapan LSM masing-masing. Rizal Damanik dari Koalisi Rakyat untuk Keadilan Perikanan (Kiara) mengatakan Indonesia harus berani menjaga kedaulatan wilayah perairannya. “Setiap tahunnya ada puluhan nelayan kita yang ditangkap di Malaysia dan diperlakukan semena-mena.”
Ia mengkritik sikap Presiden Yudhoyono sebagai ketua ASEAN yang tidak menunjukkan kewibawaannya justru saat menghadapi masalah-masalah yang dihadapi rakyat Indonesia. Begitupun ketika ASEAN berhadapan dengan kepentingan AS, maka Presiden dinilai cenderung menjadi anak manis yang gampang diatur-atur.
Adapun Ario Adityo dari Institute for National and Democracy Studies (Indies) menyatakan bahaya imperialisme ekonomi itu sudah semakin nyata. “Mereka melindungi kepentingan ekonomi dengan mendirikan pangkalan militer di mana-mana,” tutur dia. Di Australia, misalnya, kata dia, 2.500 marinir AS akan ditempatkan di sana untuk melindungi kepentingan AS di kawasan Asia Pasifik.
Aksi yang hanya dijaga puluhan petugas itu diakhiri dengan peragaan penindasan oleh kapitalisme global kepada kaum tani dan rakyat miskin. Mereka yang berusaha mempertahankan bola dunia akhirnya tersungkur oleh kekuatan kapitalis yang menggunakan simbol ASEAN. Namun, setelah berhasil bangkit, para petani itu kemudian berhasil menjerat leher Abang Sam dan membuatnya tersungkur.
ROFIQI HASAN





