foto

Bachtiar Chamsah di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi, Jakarta, (8/3). ANTARA/Reno Esnir

Bachtiar Chamsyah Pojokkan Anak Buahnya  

TEMPO.CO, Jakarta - Keterangan bekas Menteri Sosial Bachtiar Chamsyah pada sidang perkara korupsi dalam pengadaan mesin jahit dan sapi impor menyudutkan mantan anak buahnya.

Bachtiar menyatakan, tak pernah memberi arahan, baik kepada Direktur Jenderal Bantuan Jaminan Sosial Amrun Daulay maupun terdakwa Yusrizal yang kala itu menjabat Kepala Sub Direktorat Kemitraan Usaha Kementerian Sosial.

Di hadapan Majelis Hakim Pengadilan Tindak Pidana Korupsi pada Senin, 21 November 2011, Bachtiar mengaku sempat mengusulkan pengadaan lelang terbatas karena penunjukan langsung memunculkan polemik di kementerian. Ia lantas mengakui memerintahkan penunjukan langsung terhadap PT Lasindo dalam pengadaan mesin jahit merek JITU pada 2004. Namun, tindakan itu atas rekomendasi Direktorat Jenderal Bantuan Jaminan Sosial.

"Kalau ada surat (persetujuan penunjukan langsung) yang ditandatangani menteri, tentu itu usul ditjen yang bersangkutan. Jadi, yang bertanggungjawab direktorat tersebut," ujar mantan petingi Partai Persatuan Pembangunan ini.

Akhirnya, Direktorat Jenderal Bantuan Jaminan Sosial mendatangkan enam ribu mesin jahit merek JITU model LSD 9990 pada 2004. Belakangan diketahui ada penggelembungan harga Rp 7,3 miliar. Proyek ini didanai dari APBN 2004.

Yusrizal didakwa korupsi karena ikut menyetujui penunjukan langsung itu. Ia juga dinilai bersalah lantaran tidak memberi sanksi kepada PT Lasindo yang terlambat mendatangkan mesin jahit yang diminta.

Seusai sidang tadi, Yusrizal bungkam tak mau memberikan penjelasan. Pengacaranya, Radiansyam, mengatakan keterangan Bachtiar menguntungkan kliennya sebab menunjukkan bahwa yang berhubungan langsung dengan Bachtiar adalah Amrun, bukan Yusrizal. "Pak Yusrizal ada di bawahnya Pak Amrun. Biarlah persidangan yang mengungkap siapa yang harus bertanggung jawab," kata Radiansyam.

Adapun dalam pengadaan sapi impor, Bachtiar mengakui bos PT Admadhira, Iken BR Nasution, bertemu dengan dia sebelum menggarap proyek di kementeriannya. Dalam pertemuan itu, Iken menjanjikan beberapa hal sehingga Bachtiar percaya PT Admadhira cocok menjadi rekanan. "Perusahaan itu berjanji akan melatih petani, mengolah kotoran sapi menjadi pupuk, dan sebagainya," katanya. "Tapi kemudian hari saya tahu, janji-janji itu tidak dilaksanakan."

ISMA SAVITRI