foto

TEMPO/Dwi Narwoko

Investasi Infrastruktur Masih rendah  

TEMPO.CO, Jakarta - Badan Perencanaan Nasional mengatakan investasi di bidang infrastruktur masih relatif kecil dibanding satu dekade lalu. Selain masalah permodalan, hambatan juga muncul dari sisi regulasi.

Menurut Deputi Sarana dan Prasarana Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional, Dedy Priatna, sejak 1998 hingga saat ini penanaman modal di bidang infrastruktur hanya mencapai 4 persen dari total investasi nasional.

Padahal sebelumnya angka ini mencapai 8 persen. "Meski ada kenaikan, tetap belum menyamai satu dekade lalu," ujarnya dalam seminar percepatan pembangunan moda dan transportasi publik di Hotel Kartika Chandra Jakarta, Selasa, 22 November 2011.

Dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang dan Menengah (RPJM) 2010- 2014 diperkirakan kebutuhan investasi infrastruktur nasional mencapai Rp 1,429 triliun atau 3,94 persen produk domestik bruto.

Dedy mengatakan saat ini kualitas infrastruktur Indonesia masih sangat rendah dibandingkan negara tetangga seperti Malaysia dan Thailand. Nilai indeks infrastruktur Indonesia menurut World Economic Global Competitiveness Report 2010-2011 di bawah 4, jauh dari patokan minimal: 7.

Indeks itu mengukur beberapa indikator, di antaranya pasokan listrik, pelabuhan, jalan, transportasi udara, dan kereta api. Minimnya infrastuktur membuat biaya produksi menjadi tinggi.

Karena itu salah satu cara meningkatkan investasi infrastruktur menurut Dedy ialah memperbaiki regulasi. Pemerintah sendiri merencanakan percepatan delapan proyek jalur kereta api, empat proyek pengembangan transportasi perkotaan Jabodetabek, enam proyek pelayanan penerbangan, dan revitalisasi pelayanan angkutan penyebrangan antarpulau.

Untuk pendanaan pemerintah juga mendorong perusahaan negara menanamkan modalnya dalam proyek infrastuktur. "Selain ditanggung negara, sebagian proyek itu butuh investasi swasta," ujar dia.

ALWAN RIDHA RAMDANI