Ilustrasi. TEMPO/Aditia Noviansyah
Topik
Puluhan Ribu Warga Banten Masih Buta Huruf
TEMPO.CO, Jakarta -
TEMPO CO. Serang - Sebanyak 25.669 warga Banten menyandang buta huruf. Penderita buta huruf sebagian besar perempuan berusia 15-44 tahun. Kebanyakan mereka adalah ibu-ibu yang umumnya putus sekolah di tingkat sekolah dasar (SD). “Ketika mereka belum bisa baca tulis dan menghitung, mereka tidak sekolah lagi,” kata Kepala Seksi Keaksaraan dan Kesetaraan Dindik Provinsi Banten Zulfah, Rabu, 23 November 2011.
JUmlah penduduk yang buta huruf ini tersebar di tiga daerah, yakni Kabupaten Tangerang sebanyak 19.652 orang, Kota Serang 3.655 orang, dan Kota Tangerang sebanyak 2.362 orang. Sementara lima daerah lainnya yakni Kabupaten Serang, Kabupaten Pandeglang, Kabupaten Lebak, Kota Cilegon, dan Kota Tengerang Selatan (Tangsel) buta aksara sudah tuntaskan. “Di lima daerah di Banten, tidak ada lagi warga yang buta aksara, dan untuk tiga daerah lagi akan terus dituntaskan,” ujar Kepala Bidang Pendidikan Non Formal dan Informal (PNFI) Dinas Pendidikan (Dindik) Provinsi Banten Djunaedi, Rabu, 23 November.
Djunaedi mengatakan, pada 2012 mendatang, Dinas Pendidikan Provinsi Banten telah mengusulkan penuntasan angka buta aksara sebanyak 5.000 orang. Upaya penuntasan buta aksara tersebut dilakukan melalui sistem blok. “Artinya, kita konsentrasikan penuntasan buta aksara itu pada kecamatan yang terbanyak jumlah warga buta aksaranya,” katanya.
Menurut Zulfah, program penuntasan buta aksara juga dilakukan dengan program calistung (membaca, menulis dan menghitung). Warga yang buta aksara tersebut diajarkan calistung selama enam bulan. “Pengajarnya adalah para tutor yang tergabung dalam Lembaga Pusat Kegiatan Belajar Mengajar (LPKBM). Pembelajarannya dibagi kelompok-kelompok. Satu kelompok jumlahnya 10 orang,” kata Zulfah.
WASI’UL ULUM





