MEGAPROYEK INFRASTRUKTUR
Utang Asing Semakin Terfokus Infrastruktur
TEMPO.CO, Jakarta - Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) akan meningkatkan porsi pinjaman luar negeri untuk proyek infrastruktur dan energi. Jika tahun ini dana pinjaman bilateral ataupun multilateral hanya 70 persen yang dibagikan untuk kedua jenis proyek tersebut, pada 2012 akan ditambah menjadi 80 persen. “Kami akan terus tingkatkan,” kata Deputi Pendanaan Pembangunan Bappenas, Wismana Adi Suryabrata, usai desiminasi kebijakan pinjaman hibah luar negeri di Hotel Borobudur, Rabu, 23 November 2011.
Tahun depan pemerintah berencana menarik utang luar negeri sebesar Rp 56 triliun. Agar penyerapannya optimal, Bappenas mendesak lembaga atau kementerian penerima dana menyiapkan proyeknya secara matang. Wismana mengingatkan Bappenas juga akan menyiapkan penalti bagi kementerian yang penyerapannya rendah, misalnya dengan pemotongan anggaran. "Aturannya sudah ada," ujarnya.
Hingga semester kedua 2011 pinjaman luar negeri yang terserap mencapai US$ 11,5 miliar atau sekitar 52,9 persen dari komitmen utang luar negeri US$ 21,7 miliar yang tersedia untuk 165 proyek.
Dia menjamin Bappenas tetap selektif menyalurkan dana pinjaman luar negeri untuk kementerian dan lembaga. Proyek yang didanai harus berdasarkan portofolio risiko yang saat ini sedang disusun Kementerian Keuangan. “Mana yang lebih bagus biaya dan risikonya, itu yang dipilih."
Meski pinjaman luar negeri untuk proyek infrastruktur dan energi cukup besar jumlahnya, Bappenas optimistis target rasio utang terhadap produk domestik bruto sebesar 24 persen pada 2014 akan tercapai. Wismana menilai rasio tersebut masih wajar dan tidak akan membuat gejolak di dalam negeri. Dia justru yakin belanja negara dari utang luar negeri akan mendorong pertumbuhan ekonomi. "Semangatnya saat ini memperbaiki kualitas penyerapannya,” kata Wismana.
ALWAN RIDHA RAMDANI





