TEMPO/Budi Yanto
Infografis
ITB Buka Kelas Diploma Satu
TEMPO.CO, BANDUNG- Mulai tahun ini Institut Teknologi Bandung membuka kelas program Diploma-1 khusus bagi lulusan Sekolah Menengah Kejuruan. Mereka belajar jarak jauh lewat internet. Biaya kuliahnya berkisar Rp 3 juta hingga lulus.
Program yang ditawarkan ITB untuk D-1 itu baru ada di beberapa fakultas atau sekolah. Diantaranya program pemetaan, komputer, animasi, dan aplikasi program bergerak. "Kita beri materi kuliah secara online, mahasiswa hanya datang tiap 6 bulan sekali untuk kuliah tatap muka di kampus," kata Rektor ITB Akhmaloka, Rabu, 23 November 2011.
Program yang tengah berjalan sesuai kalender akademik itu mulai dibuka Agustus lalu. Sementara ini pesertanya berjumlah 250 orang. Mereka berasal dari 8 daerah, seperti Bandung, Gorontalo, Pati, dan Banjarmasin.
Menurut Akhmaloka, program ini dibuat atas perintah Menteri Pendidikan Nasional. Di ITB sendiri sebelumnya tidak pernah membuka kelas diploma satu. Tujuannya agar para lulusan SMK yang akan atau telah bekerja memenuhi syarat dan kemampuan di tempat kerjanya.
Kampus hanya menerima peserta jika pemerintah daerah atau perusahaan mengirimnya untuk kuliah. "Jadi tidak semua bisa mendaftar seperti jalur reguler," kata Gatot Hari Priowirjanto, Direktur South East Asian Minister of Education Organization Regional Open Learning Center, di ITB, Rabu 23 November 2011.
Program D-1 baru ini disebut pendidikan vokasi berkelanjutan. Kementerian, kata Gatot, telah meminta 100 perguruan tinggi negeri dan swasta dengan target 60 ribu orang. Namun sejauh ini baru 27 kampus yang bersedia membuka kelas D-1 dengan 3.000-an mahasiswa. "Sebagian kampus masih ada pro dan kontra di internal," ujarnya seusai diskusi di acara Digital Media Festival di Aula Barat ITB hari ini.
Kelulusan mahasiswa, ujar Gatot, tidak selalu berdasarkan hasil ujian tertulis. Di kampus Universitas Brawijaya Malang, misalnya, mahasiswa yang dididik untuk menjadi juragan ikan lele, harus menghasilkan 300 ribu bibit ikan lele dalam 6 siklus dan laku terjual. "Mahasiswa kita didik untuk menghasilkan duit," katanya.
ANWAR SISWADI





