foto

TEMPO/Arie Basuki

Surat Kaleng Goyang Bahana  

TEMPO.CO, Jakarta - Sebuah surat tanpa identitas menghebohkan PT Bahana Pembinaan Usaha Indonesia (BPUI). Surat kaleng itu dikirimkan kepada Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Menteri Keuangan, PT Perusahaan Pengelola Aset (PPA), direksi BPUI, dan direksi Bank BNI. Surat mengatasnamakan seluruh karyawan ini meminta pemegang saham mengganti manajemen BPUI lantaran berperan memperburuk kinerja keuangan perseroan setelah PT Bahana Securities menjadi penjamin emisi saham PT Garuda Indonesia.

Direktur Utama BPUI Heri Sunaryadi belum merespons pertanyaan tertulis Tempo. Penjelasan hanya datang dari Direktur Utama Bahana Securities Eko Yuliantoro. “Sebagian besar isi surat itu tak benar,” ujarnya pekan lalu. Serikat Karyawan Bahana juga sudah mengambil sikap. “Kami sependapat dengan isi surat kaleng itu," ujar Ketua Serikat Pekerja Bahana Dwityo Pudjomo kepada Tempo, pekan lalu.

Adapun Menteri BUMN Dahlan Iskan mengatakan belum menerima surat itu. "Mungkin masuk ke Deputi Menteri,” ujarnya di sela-sela peluncuran buku Tempo: Transformasi BUMN Menuju Pentas Global di Kempinski Hotel Indonesia, Selasa malam pekan lalu.

Surat kaleng itu menyoroti keikutsertaan Bahana Secutities--anak usaha BPUI--menjadi penjamin emisi saham perdana (IPO) Garuda, 2-8 Februari lalu. Bahana bersama PT Mandiri Sekuritas dan PT Danareksa Sekuritas menjual 6,27 miliar lembar (26,7 persen) dengan harga Rp 750 per lembar. Namun jumlah saham Garuda yang terjual hanya 3,26 miliar (sekitar 14,7 persen). Sisanya 3,01 miliar lembar (12 persen) senilai Rp 2,25 triliun tak laku.

Bahana, Mandiri Sekuritas, dan Danareksa masing-masing harus menyerap empat persen saham Garuda senilai Rp 750 miliar. Menurut sumber Tempo, dalam rapat teknis direksi Grup Bahana yang membahas anggaran pada Selasa, 15 November lalu, manajemen memperkirakan kerugian Bahana Securities akibat saham Garuda tahun ini sekitar Rp 300 miliar.

Adapun prognosa kerugian konsolidasi BPUI pada 2011 sekitar Rp 198 miliar. Itu, kata dia, dengan asumsi harga saham Garuda Rp 500 per lembar. Faktanya harga saham Garuda sampai Kamis pekan lalu masih Rp 405 per lembar. Gara-gara kerugian dari saham Garuda, ekuitas BPUI semakin tekor dari minus Rp 187 miliar menjadi Rp 400-an miliar akhir tahun ini.

Si pengirim surat menyesalkan direksi Bahana Pembinaan setuju harga jual saham Garuda dengan alasan diperintah oleh pemegang saham (Kementerian BUMN). Di akhir suratnya perwakilan karyawan Bahana meminta pemegang saham harus bertanggung jawab bila benar memberi instruksi menjual harga saham Garuda Rp 750 per lembar. “Tapi bila tak memberikan instruksi tersebut Kementerian harus mengganti manajemen BPUI,” demikian tertulis di surat itu.

Bila karyawan Bahana resah, Eko justru tetap optimistis dengan kinerja perseroannya. Dia meyakinkan kondisi Grup Bahana cukup sehat. “Bisnis anak-anak usahanya berjalan baik,” ujarnya.

Bahana punya empat anak usaha, yakni PT Bahana TCW Investment Management, Bahana Securities, PT Bahana Artha Ventura, dan Graha Niaga Tata. Masalah saham Garuda pun, ujar Eko, sebentar lagi akan tuntas. Dahlan Iskan sudah mengizinkan Bahana menjual saham Garuda.

Saat ini, Bahana sedang berkoordinasi dengan Danareksa dan Mandiri untuk menjual bersama-sama saham Garuda. ”Setelah saham Garuda terjual semua masalah Bahana praktis beres,” ujar Eko. Dahlan tak berkeberatan saham Garuda dijual buat menyelamatkan kapal Bahana. “Daripada nyangkut terus di neraca lebih baik segera dijual,” ujar dia. ”Silakan direksi Bahana usulkan. Nanti saya setujui.”

PADJAR ISWARA| EVANA DEWI