TEMPO/Aditia Noviansyah
Topik
Produksi Padi Jeblok, Pemerintah Salahkan Petani
TEMPO.CO, Jakarta - Kementerian Pertanian menyatakan produktivitas padi rendah karena petani tidak bisa menggunakan teknologi. Direktur Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian, Udhoro Kasih Anggoro, mengatakan, persoalan utama dari rendahnya produksi padi karena ketidakmampuan petani menguasai teknologi pertanian.
"Problemanya adalah ketidakmampuan melaksanakan anjuran teknologi di tingkat usaha tani," kata Anggoro saat ditemui usai HUT KORPRI di kantor Kementerian Pertanian, Jakarta, Selasa, 29 November 2011.
Dia menambahkan, tidak mampunya petani menguasai teknologi pertanian juga disebabkan terbatasnya modal yang dimiliki. Petani tidak memiliki uang untuk mengakses peralatan dan teknologi pertanian yang dianjurkan pemerintah.
Dia mencontohkan, pemerintah memberi bantuan SL-PTT (sekolah lapang pengelolaan tanaman terpadu), yang bisa membantu petani meningkatkan produktivitas. "Tapi ketika bantuan tidak diberikan lagi, maka petani akan kembali ke cara lama," jelasnya.
Meskipun produktivitas masih sulit ditingkatkan, Anggoro tetap optimistis pemerintah bisa meningkatkan produksi padi tahun depan. Dasar optimisme itu dilihat dari iklim yang tergolong normal, ketersediaan pupuk, benih, dan air. "Faktor menanam itu kan ada air, sawah, benih, petani, baru petani turun ke lapangan. Air ada karena sudah mulai musim hujan. Itu persyaratan utama," ujarnya.
Petani, lanjutnya, tentu membutuhkan peran pemerintah daerah untuk mengawal proses produksi. Dia menambahkan, perlu peran aktif dari pemerintah daerah dalam mendukung peningkatan produksi pangan.
"Sebagai contoh, kalau terjadi serangan hama dan penyakit tanaman di suatu daerah, maka pemerintah daerah harus segera melaporkan ke pemerintah pusat. Begitu juga penyuluh pertanian di daerah harus aktif," ujarnya.
ROSALINA





