TEMPO/Eko Siswono Toyudho
Topik
Dolar AS Melemah Secara Meluas
TEMPO.CO, New York — Dolar Amerika Serikat (AS) turun terhadap mata uang euro dan mata uang utama lainnya pada hari Rabu kemarin. Terdepresiasinya dolar AS dipicu oleh aksi bank – bank sentral utama dunia untuk memotong biaya pinjaman bagi perbankan dan memperkuat fasilitas swap yang ada.
Setelah pengumuman aksi tersebut, euro berhasil melonjak ke US$ 1,3446 dibandingkan dengan posisi sebelumnya US$ 1,3329 di pasar New York selasa malam. Terhadap yen, dolar juga melemah menjadi 77,53 dari posisi sebelumnya 77,85. Poundstering Inggris juga terapresiasi ke US$ 1,5703 dari posisi sebelumnya US$ 1,5610. Walhasill, indeks dolar AS terhadap enam mata uang utama dunia jatuh ke level 78,345 dibanding posisi sebelumnya di 78,99.
Bank Sentral AS (The Fed), Bank Sentral Eropa (ECB), Bank Sentral Inggris (BoE), Bank Sentral Jepang (BoJ), Bank Sentral Kanada (BoC) dan Bank Sentral Swiss (SNB) meningkatkan fasilitas swap yang ada bagi perbankan dengan memberikan pinjaman dolar AS dengan biaya murah untuk meringankan ketegangan di pasar keuangan. Pada hari terakhir, biaya dasar swap naik ke level tertingginya dalam tiga tahun.
“Masalahnya saat ini adalah bahwa para pelaku pasar telah menempel stigma buruk di pasar meskipun bank telah memiliki akses pendanaan bank sentral, korporat masih enggan menggunakan jasa perbankan meskipun bunganya sudah murah dari suku bunga pasar,” kata David Watt, ahli strategi pasar uang senior di RBC Capital Market.
Bank – bank sentral berharap suku bunga swap akan turun sehingga lebih masuk akal bagi para pebisnis untuk mengantisipasi pelambatan. “Mereka berharap, jika lembaga – lembaga mengambil pinjaman akan menurunkan stigma dan likuiditas akan kembali normal sehingga akan meredakan tekanan bagi euro,” paparnya.
Direktur riset mata uang di GTF, Kathy Lien mengemukakan, tindakan terkoordinasi ini menyiratkan bahwa bank sentral merasa kondinya jauh lebih buruk dari yang diperkirakan, membuat kita percaya mengapa likuiditas yang dibutuhkan segera lebih banyak. Pasar selalau lega bila melihat bank sentral melakukan suatu tindakan, terutama untuk meningkatkan likuiditas seperti yang dilakukan oleh bank sentral Cina. Namun, dia mengatakan masalah utang negara Eropa akan menjadi pendorong utama pergerakan euro.
Dalam pertemuan Menteri Keuangan anggota Uni Eropa menyetujui dana pinjaman kepada Yunani senilai 8 miliar euro (US$ 10,7 miliar). Mereka juga mentepakati rencana untuk memanfaatkan Dana Fasilita Stabilitas Eropa (EFSF) senilai 440 miliar euro.
MARKETWATCH/VIVA B KUSNANDAR





