foto

TEMPO/Eko Siswono Toyudho

Rupiah dan IHSG Melemah di Akhir Pekan  

TEMPO.CO, Jakarta - Aksi ambil untung yang dilakukan para investor membuat indeks bergerak turun di area negatif. Terkoreksinya sebagian bursa regional serta indeks yang sudah naik cukup signifikan dalam empat hari terakhir dijadikan momen para pemodal merealisasikan keuntungan yang sudah diperoleh.

Peningkatan data klaim tunjangan pengangguran AS hingga di atas 400 ribu membuat investor bersikap hati-hati menjelang keluarnya data tenaga kerja nanti malam.

Melemahnya sebagian bursa saham dan mata uang Asia membuat rupiah dan indeks terkoreksi siang ini. Pada perdagangan sesi pertama siang ini, Jumat 2 Desember 2011, indeks harga saham gabungan (IHSG) ditutup melemah 14,446 poiin (0,38 persen) 3.766,653. Demikian pula dengan rupiah, siang ini ditransaksikan di leve 9.105 per dolar AS, atau melemah 108 poin (1,19 persen) dari penutupan kemarin.

Analis dari MNC Securities, Reza Nugraha, mengemukakan bursa domestik hari ini memang sedikit rawan koreksi karena pasar sedang menunggu data tenaga kerja Amerika. “Naiknya data tunjangan pengangguran mencapai 402 ribu yang merupakan level tertingginya dalam bulan kemarin serta turunnya data aktivitas pabrik Cina di bulan November membebani pergerakan indeks,” tutur dia.

Terkoreksinya indeks Dow Jones dan diikuti oleh sebagian bursa regional siang ini serta kondisi akhir pekan membuat laju indeks agak terganjal.

Aksi koordinasi yang dilakukan beberapa bank sentral dunia untuk mengurangi tekanan atas sistem keuangan global serta penurunan cadangan persyaratan bank Cina 50 basis point mampu memicu lonjakan indeks hingga menembus level 3.800.

Kepala Riset Treasury Bank BNI, Nurul Etti Nurbaeti, mengungkapkan, setelah menguat hingga di bawah 9.000 per dolar AS, rupiah hari ini akan cenderung konsolidasi. Fakta bahwa ekonomi Indonesia mulai terimbas penyebaran krisis global mengganjal supremasi rupiah.

“Penurunan surplus neraca perdagangan Indonesia bisa menjadi acuan bagi Bank Indoensia akan lebih fokus menggunakan kebijakan suku bunga rendah untuk memacu pertumbuhan ekonomi,” ujar dia.

VIVA B. KUSNANDAR