indonesia
INDONESIA
english
ENGLISH
rss
twitter
facebook
youtube
youtube
youtube

Polisi Korban Penembakan Papua Dimakamkan

Polisi Korban Penembakan Papua Dimakamkan

Aparat TNI/Polri mengawal tersangka pelaku serangkaian aksi teror dan penembakan serta pembunuhan di kampung Nafri, kota Jayapura, yang berhasil ditangkap di daerah gunung Vuria, Kotaraja, Rabu (31/8).(ANTARA/Marcelinus Kelen)

TEMPO.CO, Gorontalo - Brigadir Dua Ferliyanto Kaluku, anggota Brigade Mobil (Brimob) yang menjadi korban penembakan di Puncak Jaya, Papua, dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Pentadio, Gorontalo, Senin, 5 Desember 2011.

Bripda Ferliyanto Kaluku bersama dua anggota Brimob lainnya, yakni Bripda Eko Apriansyah dan Briptu Syukur, menjadi korban dalam baku tembak dengan kelompok sipil bersenjata pada Sabtu, 3 Desember 2011. Kontak senjata terjadi di Kampung Wandinggobak, Puncak Jaya.

Pemakaman secara militer dipimpin langsung oleh Kepala Satuan Brimob Polda Gorontalo, Ajun Komisaris Besar Polisi Eko Saktianto. Sebelum acara pemakaman dimulai, Bripda Ferliyanto Kaluku mendapat pangkat Briptu Anumerta atas jasa-jasanya selama menjalankan tugas sebagai anggota Kepolisian RI.

"Briptu Ferliyanto Kaluku telah memberikan darma dan bakti kepada persada Ibu Pertiwi," kata Kasat Brimob Polda Gorontalo, Ajun Komisaris Besar Polisi Eko Saktianto, dalam sambutannya di pemakaman.

Erni Polimoha, ibu dari Briptu Ferliyanto Kaluku, tak kuasa menahan tangis saat melihat jasad anaknya dimasukkan ke liang lahat. Ia bahkan nyaris pingsan dan hanya bisa duduk melihat suasana pemakaman anaknya.

Kepala Satuan Satu Gegana Mabes Polri, Komisaris Besar Wahyu Widodo, mengaku bahwa pribadi Briptu Ferliyanto Kaluku sangat baik dan disiplin dalam menjalankan tugas. "Almarhum adalah anggota Brimob Kelapa Dua yang masuk tim penjinak bom dan baru bertugas selama satu tahun lebih, sebelum akhirnya ditugaskan ke Papua," kata Kombes Wahyu Widodo.

CHRISTOPEL PAINO

Komentar (0)


Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan
Wajib Baca!
X