Lobi kantor PT Bakrie & Brothers Tbk. TEMPO/ Arif Fadillah
Topik
Bakrie & Brothers Hapus Defisit Rp 34,9 Triliun
TEMPO.CO, Jakarta - PT Bakrie & Brothers Tbk telah merampungkan proses kuasi reorganisasi pada hari ini. Itu berarti perusahaan telah menghapus defisit perusahaan yang mencapai Rp 34,9 triliun. “Prosedur hukum kuasi reorganisasi Bakrie & Brothers sudah tuntas. Ini bisa memberikan nilai tambah yang optimal untuk kami,” ujar Direktur Utama Bakrie & Brothers, Bobby Gafur Umar, di Jakarta, Kamis, 8 Desember 2011.
Defisit perusahaan sebesar Rp 34,9 triliun itu berasal dari nilai akumulasi kerugian bersih, selisih nilai transaksi restrukturisasi entitas sepengendali, dan rugi investasi jangka pendek yang belum terealisasi. Hingga akhir Juni lalu, Bakrie & Brothers mencatat saldo bersih sebesar Rp 27,7 triliun. Itu merupakan akumulasi dari kerugian bersih perusahaan sebesar Rp 16,5 triliun pada 2008, Rp 1,7 triliun pada 2009, dan Rp 7,6 triliun pada 2010.
Pada rapat umum pemegang saham luar biasa (RUPS LB) 6 Oktober lalu, Bakrie & Brothers telah mendapatkan persetujuan pemegang saham untuk melakukan kuasi. Perusahaan pun mendapatkan kesempatan untuk memberitahu para kreditor hingga 6 Desember lalu. Setelah mendapat persetujuan dari kreditor, emiten berkode efek BNBR itu pun mengajukan proses kuasi ini ke Menteri Hukum dan HAM. “Kemarin, kami mendapatkan persetujuan dari Menteri Hukum dan HAM,” ujarnya.
Dengan rampungnya proses kuasi reorganisasi, Bobby mengatakan, perusahaan akan meningkatkan good corporate governance. Dengan pelaksanaan kuasi itu pula, akan membuat neraca keuangan BNBR semakin sehat.
Secara finansial, Bakrie & Brothers akan lebih mudah mendapatkan dukungan pembiayaan dari eksternal. Sebab, terhapusnya saldo defisit akan membuat risiko bisnis perusahaan ikut menurun. “Ini memungkinkan kami untuk mendapatkan pembiayaan eksternal dengan biaya lebih rendah,” ujarnya.
Ke depannya, menurut Bobby, perusahaan akan tetap fokus di sektor industri berbasis sumber daya alam dan infrastruktur, meskipun perekonomian global, khususnya di Eropa, sedang mengalami krisis. “Stabilnya faktor ekonomi dan keberhasilan pemerintah dalam melaksanakan pembangunan infrastruktur akan menjadi kunci pendorong pertumbuhan ekonomi nasional,” kata dia.
SUTJI DECILYA





