foto

AP/Yves Logghe

Cina Pangkas Rating Prancis

TEMPO.CO, Beijing -Lembaga pemeringkat kredit Cina, Dagong Global Credit Rating, menurunkan peringkat kredit Prancis kemarin. Hal ini dilakukan setelah melihat pengaruh krisis zona euro terhadap kemampuan pembayaran utang (solvabilitas) negara tersebut. 

Dagong memangkas peringkat kredit Prancis dari AA- menjadi A+ dengan embel-embel outlook negatif. Faktor yang berpengaruh di antaranya risiko eksternal yang mengancam sistem keuangan sehingga ongkos pembiayaan pemerintah meningkat. Akibatnya, solvabilitas menurun.

Penurunan peringkat utang ini ada kemungkinan bakal terus berlangsung hingga ke level lebih rendah. "Kami percaya perlambatan ekonomi akan lebih buruk dalam jangka menengah," demikian pernyataan Dagong seperti dikutip Yahoonews.

Ternyata Prancis bukan negara pertama yang dipangkas peringkatnya oleh Dagong. Dua hari lalu, peringkat kredit Italia juga diturunkan dari A- menjadi BBB dengan outlook negatif. Ratingnegeri pizza itu diturunkan lantaran terlalu bergantung pada Bank Sentral Eropa (ECB). Selain itu, solvabilitasnya merosot. 

Setelah memangkas peringkat negara Eropa, pamor Dagong sebagai lembaga pemeringkat makin mencuat. Mereka pertama kali dikenal setelah menuduh pesaingnya, Moody''s, Fitch, dan Standard and Poor, bertanggung jawab atas krisis keuangan 2008. Ketiga agensi itu dituding tidak transparan dalam menentukan peringkat dan risiko negara-negara maju saat itu.

Namun Direktur Dagong, Guan Jianzhong, menegaskan bahwa lembaga yang dipimpinnya sangat independen, termasuk saat memberi penilaian buruk pada agensi pesaing. Ia juga menjamin penilaian yang mereka lakukan akurat, mengingat pengaruhnya akan cukup besar pada pasar dan tingkat suku bunga. 



Rating kredit negara-negara Eropa cenderung makin turun belakangan ini. Selasa lalu, Standard and Poor mengancam akan menurunkan peringkat kredit 15 negara Eropa lantaran penyelesaian krisis utang yang berlarut-larut. Ancaman pemotongan rating hingga 50 persen itu juga berlaku untuk 6 negara dengan peringkat kredit AAA. 

S&P ada kemungkinan akan menurunkan peringkat untuk Austria, Belgia, Finlandia, Jerman, Belanda, dan Luksemburg sebanyak 1 tingkat. Sedangkan 9 negara lainnya, seperti Prancis, Siprus, dan Yunani, terancam turun 2 tingkat. Yunani bahkan telah mendapat predikat "junk" lantaran nyaris bangkrut. Penurunan peringkat ini rencananya diputuskan setelah pertemuan para pemimpin Uni Eropa di Brussel hari ini. 

Menjelang pertemuan akbar tersebut, pemimpin Prancis dan Jerman saat ini dikabarkan tengah giat menggalang dukungan negara-negara lain untuk skema penyelesaian krisis masing-masing. 


Salah satunya mengenai amendemen perjanjian Uni Eropa serta hal-hal yang terkait dengan pengetatan belanja dan kenaikan pendapatan negara. Aturan fiskal baru ini diharapkan mempengaruhi bank sentral untuk mengurungkan rencana kenaikan bunga dalam waktu dekat.

FERY FIRMANSYAH