Tragedi Rawagede, Apa Alasan Belanda Gelar Operasi Pembantaian?

Tragedi Rawagede, Apa Alasan Belanda Gelar Operasi Pembantaian?

Sejumlah veteran perang berziarah di Taman Makam Pahlawan Sampurna Raga, Monumen Rawa Gede, Karawang, Jabar. TEMPO/Subekti

TEMPO Interaktif - Tangsi Belanda, Karawang, di awal Desember 1947. Komandan Kompi Karawang, Mayor Alphons Wijman, memperhatikan laporan tentang Rawagede dari jaringan mata-matanya. Mereka melapor, di kampung berpenduduk tak lebih dari 500 orang itu, ada tentara Indonesia dengan kekuatan 40 sampai 60 senapan dan satu senjata mesin.

Sudah sebulan Wijman mengawasi Rawagede--kini bagian dari Desa Balongsari. Pedukuhan itu disebut sebagai zona terpanas di distriknya, Karawang. Sejak direbut Belanda, Karawang, kawasan seluas 1000 meter persegi, tak pernah sungguh-sungguh takluk.

Wijman pusing. Aksi bajak kereta uap trayek Krawang-Rengas Dengklok dikeler 10 orang bersenjata. Jaraknya setengah mil dari Stasiun Rawagede. Juru mesin, juru api, dan sekitar 20 awak kereta disandera. Tiga yang berhasil kabur. Ini adalah satu dari sekian aksi yang diduga Belanda bahwa pelakunya adalah tentara Indonesia yang beroperasi tanpa seragam.

Membaca gerakan, Wijman memutuskan aksi "pembersihan". Bala bantuan dikirimkan dari Batalion Infanteri 3 dan Resimen Infantri 9 (Cikampek), Brigade Infanteri 2 (Purwakarta), dan Divisi 7 Desember yang bermarkas di Bandung. Hari operasi ditetapkan: Selasa, 9 Desember 1947, pukul 5.30 pagi.

Namun, operasi itu sempat bocor. Adalah Dajat, warga Kampung Bubulak--12 kilometer dari Rawagede—tertangkap warga Rawagede. Dajat diperintah ayahnya menyelidiki Rawagede. Tanu, ayah Dajat adalah bintara polisi yang belakangan jadi asisten wedana dan dikenal warga sebagai cuak (mata-mata) Belanda.

Lepas Ashar, lima hari sebelum operasi berlangsung, Dajat dicokok warga dan digebuki. Bakal dihukum penggal, Dajat sukses melarikan diri malam harinya. Ia pun melapor ke ayahnya, juga Kalim. Kalim adalah cuak kolega Tanu yang bekerja sebagai detektif polisi Belanda. Keduanya lalu melapor ke Markas Belanda di Krawang.

Kisah penangkapan Dajat ini belakangan diungkap Dr J. Leimena, Ketua Komite Khusus Republik Indonesia untuk Tragedi Rawa Gede. Leimena mengirimkan kronologis tragedi Rawa Gede dalam suratnya ke Tim Jasa Baik PBB pada 3 Januari 1948. Disebutkan pula, operasi militer Belanda di Rawagede berpokok dari laporan mata-mata mereka yang tertangkap rakyat Rawagede, namun berhasil meloloskan diri.

Boleh jadi, Belanda memang sudah geregetan dengan kawasan ini. Tim Jasa Baik PBB, dalam laporan investigasinya menyebut, “ Oleh Belanda, Rawagede dianggap sebagai markas besar gerombolan bersenjata dan Lurah Rawagede adalah salah satu otaknya," begitu tulis PBB.

Posisi Rawagede memang strategis. Terletak 25 kilometer dari Alun-alun Karawang, kawasan ini dilintasi jalur kereta api Karawang-Cikampek-Rengasdengklok. Rengasdengklok sendiri adalah salah satu gudang senjata dan material Jepang. Di sana, ada bekas markas pasukan Pembela Tanah Air (Peta).

Syahdan, bukan lantaran posisinya saja yang strategis Rawagede bisa jadi basis pejuang Indonesia di kawasan seputar Batavia. Kisah perlawanan pejuang Rawagede juga sudah popular saat itu.

"Tentara Belanda sejak masuk ke Karawang tak pernah berani ke Rawagede” kata Sa’ih, mantan pejuang yang tinggal di Rawagede. “ Beberapa kali Belanda masuk Rawagede, tapi selalu digempur sehingga mereka pulang lagi ke markas,"

Tapi juga lantaran para tentara Indonesia dan para pejuang itu di bawah komando Kapten Lukas Sutaryo. Lukas--lelaki yang dijuluki begundal Karawang-Bekasi--itu memang bikin gerah Belanda lantaran aksi penyerangan pasukan laskar pimpinan kapten berani mati itu.

Lukas dikenal bermata jeli bagai elang dan licin bagai belut. Ia dikenal selalu lolos dalam penyergapan. Letnan Dua Purnawirawan Soepangkat--salah satu anak buahnya--bertutur, Lukas punya kehebatan bertempur jarak dekat. Komandannya itu suka menyerang konvoi militer dan markas pertahanan Belanda di daerah perbatasan Jakarta-Jawa Barat.

Kepiawaian Lukas membuat Belanda menjadikannya musuh nomor satu di kawasan Jawa Barat. Militer Belanda menawarkan hadiah 10 gulden bagi siapa saja yang bisa menangkap Lukas dalam keadaan hidup dan mati.

Lukas sendiri tinggal di Rawagede. Kawasan ini, menurut Soepangat, tak hanya basis, tapi juga lintasan pejuang revolusi kemerdekaan. Tak heran juga, Belanda mencari Lukas di sana. " Ada info Lukas berada di Rawagede. Karena Belanda mencari Lukas tak ketemu, desa itu jadi sasaran."

Namun, hari-hari menjelang itu, Lukas sedang perang gerilya ke Markas Belanda di Pabuaran, Pamanukan, Subang hingga CIkampek.

Sehari sebelum operasi berlangsung, Lukas sempat pulang ke Rawagede. Ia juga sedang diuber pasukan NICA. Sukarman, salah satu anak buahnya yang masih hidup bertutur, Lukas masuk Rawagede hari Senin, jam 07.00 pagi, tanggal 8 Desember 1947. “ Tapi ia tidak lama” ujarnya.

Pukul 15.00 WIB, Lukas dan pasukannya bergerak menyerang Markas Belanda di Cililitan. Lukas bahkan tak tahu Rawagede dibantai Belanda yang sedang mencarinya.

Hanya satu jam setelah Lukas pergi dari Rawagede, Mayor Wijman dan pasukannya membawa kendaraan tempur menuju kampung itu.



BUNGA MANGGIASIH | ALI ANWAR | SURYANI IKA | WIDIARSI AGUSTINA

Komentar (0)


Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan
Wajib Baca!
X