Kepala BPH Migas, Tubagus Haryono. (Tempo/Dimas Aryo)
Topik
Pimpin BPH Migas, Andy Noorsaman Gantikan Tubagus
TEMPO.CO, Jakarta - Komisi Energi Dewan Perwakilan Rakyat resmi memilih ketua dan anggota Komite Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas (BPH Migas) periode 2011-2015. Anggota yang terpilih kali ini diyakini dapat bekerja lebih baik karena diisi oleh orang-orang yang profesional dan berpengalaman.
Dalam periode kali ini, Komisi Energi memilih Andy Noorsaman Sommeng, mantan Dirjen Hak Kekayaan Intelektual Kementerian Hukum dan HAM, sebagai Kepala BPH Migas menggantikan Tubagus Haryono. "Pak Andy cukup positif, lama menjadi eselon. Lulusan dan pengajar S-2 UI untuk manajemen gas dan sangat paham," ujar anggota Komisi Energi, Satya W. Yudha, saat dihubungi, Jumat, 9 Desember 2011.
Selain Andy, terdapat dua calon Kepala BPH Migas lainnya, yaitu M. Fanshurullah Asa dan Fahmi Harsandono. Andy meraih 36 suara anggota Komisi VII DPR, Fanshurullah 38 suara, dan Fahmi 35 suara. Ketiga peraih suara terbanyak tersebut selanjutnya mengikuti proses pemilihan kepala secara internal. Dan disepakati oleh para calon lainnya, Andy terpilih sebagai Kepala BPH Migas.
Secara keseluruhan, sembilan anggota Komite BPH Migas terpilih 2011-2015 adalah Andy Noorsaman Sommeng, merangkap sebagai kepala; M. Fanshurullah Asa; Fahmi Harsandono; Sumihar Panjaitan; Saryono Hadiwidjoyo; Karseno; Martin Samodra Ritonga; Ibrahim Hasyim; dan A. Qoyum Tjandranegara.
Mekanisme pemilihan badan pengatur ini diawali dengan Presiden yang mengusulkan 18 calon anggota ke DPR dan selanjutnya Komisi VII DPR memilih sembilan di antaranya dengan melakukan uji kelayakan dan kepatutan kepada calon-calon tersebut selama tiga hari berturut-turut.
Satya memaparkan, kesembilan anggota kali ini lebih berwarna dengan latar belakang yang cukup bagus. Terdapat setidaknya dua mantan tentara, yaitu Karseno dan Martin Samodra Ritonga. Jadi, diharapkan koordinasi dalam pengawasan distribusi bersama aparat keamanan dapat lebih lancar.
Beberapa misi yang diemban oleh BPH Migas kali ini adalah untuk menjadi penggerak ekonomi, seperti pembangunan infrastruktur pipa, kilang BBM, dan regasifikasi LNG. Peningkatan gas bumi dari hulu untuk kebutuhan domestik, konversi BBM dengan BBG, elpiji, atau LNG. "Paling terutama adalah soal jaminan pasokan bahan bakar minyak ke seluruh pelosok Indonesia dengan pengawasan yang terpadu," ujar Satya.
GUSTIDHA BUDIARTIE





