Jajaran Komisaris dan Direksi PT Berau Coal Energy (dari kiri), Komisaris Erry Firmansyah, Presiden Direktur Eko S Budianto, Presiden Komisaris Syofyan Abdul Djalil, Komisaris Rosan Perkasa Roelani saat paparan publik tentang penawaran awal dalam proses IPO di Hotel Mulia. Jakarta. TEMPO/Dinul Mubarok
Infografis
Berau Coal Yakin Laba Bersih Naik 300 Persen
TEMPO.CO, Jakarta - PT Berau Coal Energy Tbk memprediksi peningkatan laba bersih perusahaan pada tahun ini mencapai US$ 204 juta atau naik 300 persen dibandingkan perolehan tahun 2010. “Sampai akhir tahun akan naik sampai 300 persen,” ujar Direktur Utama Berau Coal, Rosan Perkasa Roeslani, usai paparan publik di Jakarta, Rabu 14 Desember 2011.
Rosan yakin perusahaan bisa memenuhi target tersebut karena didukung pencapaian kinerja hingga kuartal ketiga tahun ini yang meningkat. Laba bersih hingga kuartal ketiga mencapai US$ 112 juta atau meningkat 239,3 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun lalu sebesar US$ 33 juta.
Rosan menargetkan EBITDA pada tahun ini dapat mencapai US$ 520 hingga 540 juta. Sedangkan EBITDA pada tahun depan meningkat hingga US$ 600 juta.
Ini, menurut Rosan, dipicu oleh kenaikan volume produksi batu bara perusahaan dan kenaikan harga jual hingga kuartal ketiga 2011. Tercatat produksi batu bara sebesar 14,32 juta metrik ton atau lebih tinggi 17,1 persen dibandingkan produksi kuartal ketiga tahun lalu sebesar 12,23 juta metrik ton. Sedangkan harga jual sepanjang tahun ini berkisar di angka US$ 81 per ton.
Pada September lalu perusahaan memperoleh volume pengiriman per bulan terbesar sejak dimulainya produksi komersial, yaitu sebesar 2,02 juta metrik ton. “Dengan peningkatan ini kami yakin dapat memenuhi target produksi sebesar 20 juta metrik ton hingga akhir tahun ini, lebih tinggi dibandingkan produksi pada tahun lalu sebesar 17 juta metrik ton,” ujar dia.
Hingga November ini perusahaan telah memproduksi 18,5 juta metrik ton batu bara. Pada tahun depan, kata Rosan, Berau Coal berencana dapat memproduksi hingga 23 juta metrik ton dengan harga jual yang menurun dibandingkan tahun ini sebesar US$ 80 per ton.
SUTJI DECILYA





