foto

TEMPO/Imam Yunni

Jusuf Kalla: Jangan Takut dengan Cina

TEMPO.CO, Jakarta - Mantan Wakil Presiden Indonesia Jusuf Kalla mengakui kekuatan ekonomi Indonesia masih di bawah Cina. Namun ekspansi bidang ekonomi Cina tak perlu ditakuti. ”Memang hari ini kami kalah dengan Cina, (tapi) dia tidak mungkin bertahan murah terus-menerus,” katanya dalam diskusi yang digelar di sela Rapat Pimpinan Provinsi Kadin Jawa Barat di Bandung, Rabu 14 Desember 2011.

Menurut dia, kekuatan ekonomi Cina terletak dari suku bunga perbankannya yang rendah, buruh murah, dan semangat tinggi untuk bersaing. ”Sekarang buruh tidak mungkin dipertahankan murah, dia ingin menaikkan konsumsi dalam negeri, (caranya) gaji naik, (sehingga) persaingan (saat ini) bisa lebih terbuka,” kata Kalla.

Dia mengatakan musuh terbesar adalah perasaan kalah. Kalla minta pengusaha tidak pesimistis, sambil menyentil sejumlah keluhan pengusaha soal berbagai kondisi yang dinilai menyulitkan pengembangan ekonomi Indonesia. Padahal, kata Kalla, hanya ada 3 hal yang perlu dihitung agar tidak kalah bersaing, yakni lebih baik, lebih murah, dan lebih cepat.

Soal Indonesia yang masih ketinggalan, Kalla menyebutkan sejumlah penyebabnya. Di antaranya sistem keuangan dengan bunga perbankan yang masih tinggi yang harus diturunkan sampai single digit, lalu persoalan infrastruktur seperti logistik dan listrik, serta semangat kompetitifnya. ”Suatu negara maju itu digambarkan pertama kemauannya untuk maju,” kata Kalla.

Pembicara lainnya, Mantan Gubernur Bank Indonesia yang kini menduduki jabatan Rektor Ikopin, Bandung, Burhanuddin Abdullah mengatakan soal suku bunga yang tinggi, panjang ceritanya. Masalahnya, katanya, harus melihat siapa yang punya uang di Indonesia. ”Yang punya uang hanya sekitar 1 persen di masyarakat, penabung-penabung besar yang punya daya tawar tinggi minta suku bunga tinggi,” katanya.

Soal keputusan Bank Indonesia memutuskan menurunkan suku bunga bank, Burhanuddin mengatakan itu langkah yang tepat, kendati seharusnya bisa lebih cepat. Dia menampik kekhawatiran soal keputusan Bank Indonesia menurunkan suku bunga bakal memicu capital outflow.

Dia beralasan sejumlah negara mematok suku bunganya lebih rendah dari Indonesia. Sekalipun ada arus uang yang keluar, hanya merupakan aksi ambil untung semata. ”Uang itu tidak akan kemana-mana,” kata Burhanuddin.

Hanya, menurut Burhanuddin, yang perlu dicermati adalah struktur penyaluran kredit di Indonesia jika dibandingkan negara lain sangat kecil. Survei terakhir, katanya, menunjukkan sumbangan pertumbuhan ekonomi yang dilakukan pengusaha lewat investasinya lebih banyak berasal dari modalnya sendiri. ”Tahun 2011 ini kredit `to` GDP (Indonesia) hanya 29 persen, Malaysia 120 persen, Korea 100 persen,” katanya.

Menurutnya bank punya alasan sendiri soal pelitnya mengucurkan kredit. Mayoritasnya beralasan prospek usahanya yang belum meyakinkan. ”Kalau bersama-sama memperbaiki itu tidak ada alasan untuk memperbesar jumlah kredit,” kata Burhanuddin.

AHMAD FIKRI