Busana Berbahan Daur Ulang Diperagakan di Lumajang

Busana Berbahan Daur Ulang Diperagakan di Lumajang

Peserta Salatiga Culture Carnival diiringi drumb blek menggunakan kostum busana dari limbah kayu. TEMPO/ Budi Purwanto

TEMPO.CO, Lumajang -Festival fashion Lumajang On The Street and Stage (LOSS) Carnival, Rabu 14 Desember 2011 malam ini digelar di Lumajang. Ajang pamer busana berbahan daur ulang bertema 'Glow In The Dark' ini digelar di Alun-alun Lumajang.

Menurut Maria, Ketua Panitia LOSS Carnival eksplorasi bahan daur ulang untuk busana serta asesoris ini menjadikan karnaval yang digelar di Lumajang ini sedikit berbeda dengan karnaval yang digelar di beberapa daerah lain. Sedangkan pengambilan tema 'Glow In The Dark' dijelaskan Maria untuk mengingatkan warga Lumajang akan tradisi festival atau pawai lampion yang bernah terjadi sejak lama. ”Momentum ini kita ambil untuk menghidupkan kembali tradisi itu. Makanya, panitia mengemas dalam bentuk kostum carnaval,” jelas dia. Dia menambahkan, kostum yang dikenakan para peserta kaya dengan cahaya.

Gemerlap cahaya pada busana yang tampil nantinya diharapkan bukan sekedar lampion biasa. Karena itu, Maria mengatakan pihaknya telah mempersiapkan tim ahli untuk membantu peserta dalam mengapresiasikan penampilan yang semakin menarik, enak ditonton dan menghibur masyarakat.

Intinya, gemerlap cahaya itu bukan hanya berasal dari lampion atau lampu. Namun bisa juga dari pantulannya serta bahan fosfor dan bahan-bahan lainnya. Untuk hal tersebut, kata dia, diserahkan kepada para peserta atau kreatornya. Berdasarkan data yang ada jumlah peserta yang tercatat mencapai 217 peserta yang terdiri dari 17 peserta beregu dan 62 perorangan. ”Peserta bukan hanya dari Lumajang saja, ada beberapa peserta yang berasal dari Leces Probolinggo, Tanggul dan Jember,” kata Maria.

Sementara itu, Kepala Bagian Hubungan Masyarakat Pemerintah Kabupaten Lumajang, Eddy Hozaini mengatakan, karnaval busana daur ulang itu merupakan pawai kontemporer untuk ajang adu kreatifitas menciptakan busana dari bahan daur ulang yang dibumbui dengan gemerlap cahaya. LOSS Carnival, kata dia, bukanlah ajang pawai tari-tarian biasa saja. "Dengan tema Glow In The Dark, LOSS Carnival akan lebih menarik untuk ditonton," ujarnya setengah berpromosi.

Pawai yang digelar malam hari ini mulai pukul 18.00 sampai selesai. Karena menjadi ajang adu kreatifitas busana serta akan banyak mengekspolrasi gemertlap cahaya pada busana itu sendiri, maka kegiatan ini digelar pada malam hari.

"Mungkin pawai ini satu-satunya yang dilaksanakan malam hari," katanya. Menurut dia, LOSS Carnival ini diharapkan bisa menjadi ikon Lumajang di masa mendatang. Hingga berita ini ditulis, persiapan terus dilakukan menjelang kegiatan LOSS Carnival ini. Kepolisian Resor Lumajang tak luput untuk menyiapkan pengamanan.

Kepala Urusan Pembinaan Operasional Satlantas Polres Lumajang, Inspektur Dua Slamet Santoso siang ini mengatakan, pihaknya akan menerjunkan 114 personil sesuai dengan Surat Perintah Kepala Kepolisian Resor Lumajang Ajun Komisaris Besar Susanto. Akan ada penutupan jalur di sepanjang rute LOSS Carnival anatara Alun-alun Lumajang hingga Satdion Semeru. Selama kegiatan berlangsung, jalur lalu lintas akan dialihkan ke jalur alternatif. Arus lalulintas nanti akan diatur oleh petugas yang ditempatkan di simpul-simpul jalan.

DAVID PRIYASIDHARTA

Komentar (0)


Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan
Wajib Baca!
X