sxc
Topik
Keterlibatan Perempuan di Sektor Formal Meningkat
TEMPO.CO, Jakarta - Keterlibatan perempuan Asia Timur di dunia politik meningkat antara 7 sampai 18 persen. “Ini menunjukkan peningkatan produktivitas,” kata Andrew D. Mason, Koordinator Gender Tingkat Regional Wilayah Asia Timur dan Pasifik di Anomali Cafe, Kebayoran Baru, Jakarta, Kamis, 20 Desember 2011.
Peningkatan peran perempuan di sektor formal ini terungkap dalam diskusi mengenai "Menuju Kesetaraan Gender di Asia Tenggara dan Pasifik” yang diselenggarakan World Bank dan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak. Diskusi ini menampilkan pembicara, antara lain: Wakil Direktur World Development Report, Sudhir Shetty; Lead Economist dan Koordinator Gender Tingkat Regional Wilayah Asia Timur dan Pasifik, Andrew D. Mason; anggota Komisi III DPR sekaligus pendiri LSM Solidaritas Perempuan, Eva Kusuma Sundari; serta aktivis Aliansi Jurnalis Indonesia (AJI), Lufiana.
Perempuan menghadapi banyak tantangan dalam bekerja di sektor formal. Pola pikir bahwa kaum hawa lebih cocok bekerja di sektor informal menjadi salah satu penghambatnya. Padahal, menurut Sudhir Setty, perkembangan gender akan mendukung perkembangan suatu negara. Perempuan dengan pendidikan yang baik akan mendidik anaknya dengan baik pula sehingga menghasilkan generasi yang baik. “Perkembangan ini sifatnya global," kata Sudhir.
Beberapa poin riset menyatakan setiap tahun setidaknya 3,9 juta perempuan tewas secara tak wajar di negara-negara berpenghasilan rendah dan sedang. Selain itu, dari jutaan calon bayi perempuan di seluruh dunia, dua perlima tak pernah lahir karena orangtuanya lebih memilih memiliki anak laki-laki.
SATWIKA MOVEMENTI





