Pementasan kabaret Sangkuriang Balik Bandung oleh P-Project di Gedung Majestic, Jalan Braga, Bandung, (17/12). TEMPO/Anwar Siswadi
Topik
Sangkuriang Pulang ke Bandung
TEMPO.CO, Bandung - Seorang calon doktor (promovendus) diuji oleh tiga orang guru besar dalam sebuah sidang tesis. Tesisnya berjudul Kajian Ulang Historikal untuk Legenda Sangkuriang. "An***g, hese ieu mah euy, (susah ini)," kata Joehana Sutisna alias Joe P-Project, salah seorang penguji. Hadirin yang memenuhi gedung Majestic, Jalan Braga, Bandung, sontak tertawa.
Sidang tesis malam hari itu memang tak lazim. Agar memudahkan penilaian penguji, calon doktor itu, Daan Aria, memaparkannya dalam bentuk kabaret. Maklum, sidang tesis ini hanyalah bagian dari pementasan kabaret berjudul Sangkuriang Balik Bandung garapan P-Project pada Sabtu dan Ahad malam, 17-18 Desember 2011. "Kita main kabaret di Bandung untuk kembali ke akar kita dulu," kata Daan sebelum pentas.
Kelompok parodi yang punya lambang monyet berkacamata hitam sedang tertawa itu tampil lengkap dengan personel lawas. Para senior itu di antaranya Daan, Iszur Muchtar, Joehana Sutisna alias Joe, Iang Darmawan, dan Deni Chandra. Kelompok kabaret generasi penerusnya banyak berperan di masa kecil hingga Sangkuriang dewasa.
Ciri khas humor cerdas sekaligus kritis dari kelompok alumni Universitas Padjadjaran dan Universitas Parahiyangan Bandung itu masih terasa. Dan misalnya, mempertanyakan tempat kelahiran Sangkuriang. "Di Bandung tidak ada yang bernama Sangkuriang. Jadi, dari mana dia berasal," kata sutradara sekaligus pemeran Sangkuriang dewasa itu.
Kisah berawal dari masa kecil Sangkuriang yang terlahir dengan nama Jaka. Di kelompoknya, ia suka berkelahi. Suatu hari, Dayang Sumbi meminta hati rusa kepada anaknya itu. "Ayo kita cari kijang di hutan," ujar Jaka ke Ujang, teman mainnya. "Cari yang keluaran tahun berapa?" tanya Ujang.
Mereka berdua pergi bersama seekor anjing yang dinamai Tumang. Saat mengendus hewan buruan, Tumang tertusuk anak panah yang dilesatkan Jaka. "Anjing paeh (mati)," kata Jaka. Buat orang Bandung, kata anjing bisa berarti makian atau kata yang sangat kasar. "Kesimpulan pertama, sejak itulah orang Bandung suka menyebut nama anjing," kata Daan dengan pakaian toga.
Kembali ke rumah, Jaka sempat berdalih hati yang diberikan merupakan dari tubuh rusa. Namun Ujang tak bisa berbohong. Dayang Sumbi dan pembantunya yang disebut Dayang Sumbang (diperankan Iszur Muchtar) seketika sedih dan murka. "Kau telah membunuh ayahmu sendiri," kata Dayang Sumbi. Jaka yang kaget juga baru tahu Tumang adalah bapaknya yang dikutuk dewa menjadi anjing.
Jaka diusir dari rumah. Dalam keadaan lupa ingatan setelah kepalanya dipukul Dayang Sumbang, ia berkelana dan berguru ilmu silat. Ujian pertamanya bertapa di dalam gua. "Kalau takut melihat penampakan, lambaikan tangan ke kamera di sana dan di sana," kata sang guru yang diperankan Deni. Empat sosok hantu yang ke luar dari pintu samping gedung sempat mengagetkan penonton.
Setelah mendapatkan kesaktian, Jaka dijuluki Sangkuriang. Pengembaraannya sampai ke suatu keratuan yang dipimpin Roro Jonggrang. Ia lalu jatuh cinta dan ingin menikahinya. Di daerah yang disebut Bondowoso itu, Sangkuriang punya nama panggilan lain. Berdasarkan asalnya, patih keratuan menyebutnya sebagai Bandung Bondowoso.
Seperti kisah dalam legenda itu, ia gagal memenuhi syarat nikah Jonggrang berupa pembuatan seribu candi dalam semalam. Begitu juga ketika Sangkuriang pulang kembali ke Tatar Sunda dan ingin menikahi perempuan yang ternyata ibunya sendiri.
Bermain di kota kelahirannya, P-Project masih gesit mengolah banyolan keseharian di Bandung dalam bahasa Sunda dan Indonesia untuk memancing tawa. Bahkan seorang kru berkostum hitam yang lari di tengah kegelapan panggung berhasil mengocok perut penonton.
Panggung sendiri hanya dipasangi gapura. Selebihnya, perpindahan suasana cerita ditampilkan lewat gambar foto dan animasi yang ditayangkan layar latar.
P-Project piawai menempatkan para pemain kabaret dan memadukan dialog, lip sync, dengan ramuan penggalan-penggalan lagu. Namun, untuk lakon yang minim kejutan itu, pementasan selama hampir dua jam terasa agak membosankan.
ANWAR SISWADI





