Right Issue Adhi Karya Tunggu Restu Menkeu

TEMPO.CO, Jakarta - PT Adhi Karya (Persero) Tbk berencana menawarkan saham terbatas (right issue) pada semester kedua tahun depan. Namun aksi korporasi itu masih harus menunggu keputusan dari Kementerian Keuangan untuk mengizinkan perusahaan menambah modal pemerintah.



“Pemegang saham mayoritas yaitu Menteri BUMN telah mengirimkan surat ke Menteri Keuangan terkait rencana right issue kami,” ujar Direktur Utama Adhi Karya Kiswodarmawan pada paparan publik di Bursa Efek Indonesia, Rabu 21 Desember 2011.



Rencana penerbitan right issue didasari oleh kebutuhan modal untuk melakukan pengembangan perusahaan. Saat ini Adhi Karya memiliki modal sebesar Rp 800 hingga 900 miliar. Sedangkan perusahaan konstruksi pelat merah lainnya telah memiliki modal di atas Rp 1 triliun.



Untuk itu, perusahaan menginginkan pemegang saham, Menteri Badan Usaha Milik Negara, untuk meminta kepada Menteri Keuangan agar proses right issue Adhi Karya dapat dilakukan. Sebelumnya rencana right issue perusahaan ini sudah mendapatkan persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat RI, namun dengan perusahaan harus right issue sebagai BUMN.



Perusahaan juga tidak ingin menambah saham dengan menggunakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara pada tahun depan. Karena itu, perusahaan memiliki ide untuk menambahkan modal melalui pemasukan atas aset dari pemerintah atau imbreng.



Dengan imbreng, menurutnya, akan baik untuk perusahaan maupun pemerintah. Untuk itu, perusahaan tengah melakukan pembicaraan tentang ini dengan Kementerian BUMN dan Kementerian Keuangan. “Sampai sekarang masih itu yang dilakukan,” katanya.



Mengenai nilai right issue yang akan diperoleh, menurutnya, perusahaan akan menggunaan perusahaan penilai atau appraisal. Kalau berdasarkan Nilai Jual Objek Pajak, perusahaan membutuhkan sebesar Rp 500 miliar. “Tetapi berapa pastinya besaran right issue, kami akan menentukannya nanti,” jelasnya.



Jika right issue dapat dilaksanakan pada tahun depan, Kiswodarmawan mengatakan, belanja modal 2012 akan meningkat menjadi Rp 220 miliar. “Jika tidak ada right issue, kemungkinan belanja modal separuh dari itu. Kami nantinya akan menggunakan kas internal,” ujarnya.



SUTJI DECILYA