foto

AP/Michael Probst

Rencana Pelonggaran Likuiditas Eropa Lemahkan Euro  

TEMPO.CO, Jakarta - Euro kembali tergelincir terhadap dolar setelah Bank Sentral Eropa mengumumkan rencana pertama pinjaman jangka panjang untuk menguatkan permintaan obligasi Eropa. Mata uang euro turun dari posisi tertingginya di US$ 1,3198 ke level US$ 1,3023. Namun, pagi ini, euro ditransaksikan pada level US$ 1,3049.

Indeks dolar AS terhadap enam mata uang utama dunia dalam perdagangan New York semalam menguat 0,14 poin (0,18 persen) ke level 80,022. Namun, di pasar Asia hari ini, indeks dolar AS turun tipis 0,014 persen ke level 80,008.

Mata uang tunggal Uni Eropa itu jatuh setelah 523 bank di kawasan Eropa meminta pinjaman selama tiga tahun kepada Bank Sentral Eropa senilai 489 miliar euro (US$ 641 miliar). Pinjaman ini dikenal sebagai Longer-Term Refinancing Operations (LTROs).

Besarnya nilai pinjaman dari perbankan Eropa ini menimbulkan kekhawatiran bahwa bank akan menumpuk uangnya dalam kegiatan carry trade (meminjam uang dalam mata uang yang berbunga rendah dan mengalihkan ke dalam mata uang yang berimbal hasil tinggi). Yakni dari euro yang suku bunganya turun untuk membeli aset-aset dalam mata uang yang berimbal hasil lebih tinggi.

“Inti dari permasalahan ini adalah ke mana uang dengan bunga rendah ini akan dihabiskan,” kata Chris Fernandes, penasihat pelanggan corporate valas dari Bank of West. “Sebenarnya langkah ini positif untuk menambah likuiditas di zona Eropa, tetapi masih adanya harapan turunnya suku bunga ECB membuat euro kembali terpuruk terhadap dolar AS,” ujarnya. Pada dasarnya, kebijakan yang dilakukan bank sentral ini untuk mendorong pelonggaran kuantitatif.

Fernandes menilai hal itu merupakan quantitative easing (pelonggaran kuantitatif). Langkah ini bisa menjadi sentimen negatif bagi euro karena pasar akan kebanjiran likuiditas. “Tapi jika Anda melihat turunnya imbal hasil obligasi jangka panjang Italia dan Spanyol akan positif bagi euro,” ujarnya.

Direktur bagian suku bunga dan strategi TD Securities, Richard Gilhooly, mengungkapkan, investor pasang posisi beli saat ada rumor dan jual euro setelah faktanya keluar, membuat mata uang Eropa kembali melemah ke US$ 1,3.

Investor dan bank membeli agunan utang dan lainnya untuk menerima pinjaman dana murah dari Bank Sentral Eropa selama tiga tahun. “Pinjaman tiga tahun ini tidak akan sampai bulan Februari mendatang, namun kita telah melihat aksi ambil untung di euro,” kata Richard.

MARKETWATCH | VIVA B K