Asap hitam terlihat dari lokasi terjadinya serangan bom di kota Baghdad, Irak (22/12/). REUTERS/Mohammed Ameen
Topik
Kekerasan di Irak Berlanjut, 57 Tewas, 179 Cedera
TEMPO.CO, Baghdad - Gelombang serangan bom di Bagdad, Irak, Kamis, 22 Desember 2011, terus berlanjut menyebabkan 57 orang tewas dan melukai 179 lainnya.
Juru bicara Menteri Kesehatan, Ziad Tariq, mengatakan kepada media, serangan bom ini sebagai buntut dari krisis politik di Irak menyusul penangkapan Wakil Presiden Irak, Tareq al-Hashemi, karena diduga terlibat dengan berbagai aksi pembunuhan dan pembagian kekuasaan.
Menurut data terakhir yang dimiliki, Tariq mengatakan jumlah korban tewas mencapai 57 orang dan cedera 179 orang. Seluruh korban, jelas Menteri Dalam Negeri, akibat 11 serangan bom beruntun.
Serangan bom di Bagdad, Kamis pagi waktu setempat, berlangsung lebih kurang 10 kali, disusul serangan lainnya. Ini merupakan aksi kekerasan terparah untuk pertama kalinya terjadi sejak krisis politik antara Syiah dan Sunni usai penarikan pasukan Amerika Serikat.
Rangkaian serangan terjadi di tepi jalan raya oleh bom yang ditanam di kawasan pusat Bagdad menyebabkan 18 orang tewas seketika dan melukai lusinan lainnya. Sementara serangan bom mobil menghantam Distrik Karrada. Menurut polisi dan petugas keamanan, kejadian itu melukai lima orang.
Pada bagian lain terjadi ledakan bom jalan raya di Distrik Amil melumat nyawa tujuh orang dan melukai 21 lainnya. Sedangkan bom mobil membunuh warga Syiah di Doura menewaskan tiga orang dan melukai enam lainnya.
Polisi menjelaskan bom-bom tersebut meledak di kawasan hunian kaum Syiah terutama di kawasan Alawi tengah, Shaab, dan Shula di sebelah utara. Sedangkan satu bom meledak di tepi jalan raya di kawasan kaum Sunni di Adhamiya menewaskan satu orang dan melukai lima lainnya.
Kekerasan di Irak ini dipicu oleh keluarnya surat perintah penangkapan terhadap Wakil Presiden Tareq al-Hashemi oleh pemerintah Irak serta permintaan Perdana Menteri Nuri al-Maliki terhadap otoritas Kurdi agar menyerahkan pemimpin Sunni itu karena didakwa melakukan serangkaian pembunuhan. Sebaliknya, Hashemi menolak tuduhan tersebut.
Selain menangkap Hashemi, Maliki juga memecat wakil pimpinan Sunni Saleh al-Mutlak yang bergabung dengan blok Iraqiya karena menuduh pemegang kekuasaan Irak asal Syiah itu "seorang diktator".
Iraqiya, sementara ini, memboikot parlemen dan kabinet. Karena itu Maliki mengancam akan mengganti menteri-menteri dari blok mereka di pemerintahan bersatu.
AL ARABIYA NEWS | CHOIRUL





