TEMPO/Zulkarnain
Topik
Produksi Gas Alam Diperkirakan Turun
TEMPO.CO, Jakarta - Produksi gas alam cair (Liqufied Natural Gas) pada tahun depan diperkirakan turun. Badan Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas (BP Migas) menghitung penurunan dapat mencapai sekitar 28 persen dibanding produksi tahun ini.
Tahun 2011 produksi gas alam cair mencapai 365 kargo, sementara tahun depan produksi diperkirakan turun menjadi 262 kargo. Selama ini gas alam cair diproduksi oleh tiga kilang, yaitu Kilang Arun di Aceh, Bontang di Kalimantan, dan Tangguh di Papua.
"Pasokan ke kilang tersebut berkurang, sehingga berdampak ke produksi," ujar Deputi Pengendalian dan Operasi BP Migas, Rudi Rubiandini, Ahad 25 Desember 2011. Pasokan berkurang signifikan terutama untuk Kilang Bontang, yang biasanya diandalkan dan memproduksi LNG paling banyak selama ini. Belum lagi kilang Tangguh yang hingga saat ini belum dapat berproduksi optimal.
Produksi tahun depan juga berada di bawah angka komitmen kontrak gas alam cair pemerintah. Pada 2012 pemerintah terikat komitmen kontrak gas alam cair sebanyak 266 kargo, atau lebih tinggi 4 kargo dibanding angka produksi.
Meski demikian pemerintah telah memberikan alokasi gas alam cair untuk pasar domestik tahun depan. Perinciannya adalah sebanyak 23 kargo untuk Tempat Penampungan Gas dan Regasifikasi Terapung (FSRU) Jawa Barat dan tambahan satu kargo untuk pabrik Pupuk Iskandar Muda yang diambil dari Kilang Bontang. Selain pasokan Kilang Bontang, pabrik Pupuk Iskandar Muda juga mendapatkan pasokan dari Kilang Arun sebanyak 7 kargo.
Hingga saat ini Kilang LNG Tangguh belum memasok produksi gas alam cairnya ke pemerintah. BP Migas beralasan, Tangguh belum dapat memasok domestik karena produksinya terbatas untuk memenuhi komitmen kontrak dengan pihak lainnya seperti Fujian-Cina, Jepang, Korea, dan lainnya.
Hal tersebut sempat dikeluhkan oleh Pertamina yang tengah mengembangkan FSRU Teluk Jakarta dan FSRU Jawa Tengah. "Tangguh selama ini diekspor, belum ada alokasi domestik," ujar Vice President Corporate Communication Pertamina, Mochamad Harun.
Pertamina sedang berupaya keras merayu para produsen gas lokal untuk dapat mengisi kapasitas FSRU Jawa Tengah sebanyak 3 juta metrik ton per tahun dan ditargetkan beroperasi pada 2013.
Menurut Harun, berdasar perkembangan harga LNG di pasaran international yang terus melonjak, sulit bagi Pertamina melakukan kebijakan impor untuk mengisi kapasitas penampungan mereka. "Karena itu Pertamina mendorong pemerintah memanfaatkan opsi kewajiban DMO yang belum dipenuhi oleh produsen LNG untuk dimanfaatkan seoptimal mungkin bagi kebutuhan dalam negeri," kata dia.
GUSTIDHA BUDIARTIE





