Asosiasi Eksportir Kopi Andalkan Pasar Dalam Negeri

Asosiasi Eksportir Kopi Andalkan Pasar Dalam Negeri

TEMPO/Prima Mulia

TEMPO.CO, Jakarta - Asosiasi Eksportir Pengusaha Kopi Indonesia mengandalkan pasar dalam negeri untuk target pemasaran 2012. "Permintaan kopi dalam negeri tahun 2011 meningkat, yakni sekitar 240 ribu sampai 250 ribu ton. Peningkatan ini berlangsung terus sejak 2009. Kami optimistis akan berlangsung terus hingga 2012," kata Ketua Asosiasi Eksportir Kopi Indonesia (AEKI), Suyanto Husein, Senin, 26 Desember 2011.

Permintaan kopi ini meningkat karena mulai banyak bermunculan kedai-kedai kopi. Selain itu Suyanto juga mengatakan harga jual di dalam negeri lebih tinggi dibanding harga jual ekspor. "Karena harga jual dalam negeri lebih tinggi, para eksportir merasa tidak lebih untung jika tetap mengekspor," katanya.

Sampai November 2011, kata dia, volume produksi kopi sudah sekitar 550 ribu ton. Produksi ini menurutnya mengalami penurunan sebesar 15,3 persen dari volume produksi tahun 2010 sebesar 650 ribu ton.

"Dari 550 ribu ton, sebesar 320 ton sudah diekspor. Sisanya didistribusikan ke industri dalam negeri." tuturnya.

Prediksi Suyanto, 2012 nanti juga akan terjadi penurunan volume ekspor di atas 10 persen. "Ini karena adanya penurunan permintaan bahan baku kopi. Penurunan ini salah satunya adalah dampak dari krisis Eropa dan harga kopi dunia yang tinggi."

Sampai hari ini harga kopi, khususnya di Jepara, meluncur dari Rp 22 ribu per kilogram menjadi Rp 15 ribu per kilogram pada Agustus 2011. "Ini masih wajar kalau harga kopi fluktuatif karena pasar dunia juga masih libur. Harga yang diberikan itu masih belum pasti karena belum dihitung dari kecacatan dan kadar airnya," tutur Suyanto.

Sejauh ini stok kopi nasional sudah habis. "Hanya, di Sumatera Utara ada sedikit stok kopi Arabica. Harapannya 2012 nanti volume panen akan lebih tinggi dari 2011, sekitar 600 ribuan ton, dibarengi dengan kestabilan harga kopi dunia."

AYU PRIMA SANDI


Komentar (0)


Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan
Wajib Baca!
X