foto

Seorang pebisnis mengendarai sepedanya di depan monitor indeks harga saham di Tokyo. AP Photo/Hiro Komae

Indeks Sesi I Melemah 31,74 Poin  

TEMPO.CO, Jakarta - Indeks Harga Saham Gabungan di Bursa Efek Indonesia pada perdagangan sesi I hari ini, Selasa, 27 Desember 2011, ditutup melemah 31,74 poin atau sekitar 0,84 persen ke posisi 3.765.

Semua sektor saham turun, kecuali sektor pertanian yang naik 1,34 poin atau sekitar 0,06 persen. Sektor yang turun paling dalam, antara lain sektor industri aneka sebesar 14,21 poin (1,09 persen), pertambangan turun 26,04 poin (1,04 persen), dan manufaktur turun 10,11 poin (1,03 persen).

Perdagangan berlangsung kurang bergairah dengan frekuensi transaksi sebanyak 22.336 kali, volume 1,638 miliar saham dengan nilai Rp 1,07 triliun. Saham Duta Anggada Realty (DART) tampil sebagai top gainers. DART naik 65 poin (19,7 persen) menjadi Rp 395 per lembar.

Selain DART, pengisi papan top gainers lain adalah Goodyear Indonesia (GDYR) naik 350 poin (4 persen) menjadi Rp 9.900, serta Smart (SMAR) naik 300 poin (4 persen) menjadi Rp 7.000.

Sedangkan saham Adira Multi Finance (ADMF) menjadi top losers setelah turun 400 poin (4 persen) menjadi Rp 11.000 per lembar. Diikuti BFI Finance (BFIN) turun 200 poin (3,74 persen) menjadi Rp 5.150 dan Indomobil Sukses International (IMAS) turun 450 poin (3,42 persen) menjadi Rp 12.700.

Indeks saham  hingga akhir 2011 diprediksi masih naik meskipun tipis. Rentang pergerakan indeks diperkirakan berada pada batas 3.700-3.800. “Sulit mendekati kisaran 3.900. Kalaupun naik tidak akan signifikan, begitu pun sebaliknya,” ujar analis pasar modal dari PT Reliance Securities Steve Susanto.

Dia mengamati, pendorong pergerakan indeks adalah data ekonomi Amerika Serikat yang dinilai positif oleh pasar. Salah satu indikatornya adalah penurunan data pengangguran menjadi sekitar 8 persen dari sebelumnya 9 persen.

Sayangnya, kenaikan ini tidak akan berdampak besar dalam sesi perdagangan hari ini. Pasalnya, masa liburan yang tengah berlangsung hingga akhir tahun dapat menekan volume perdagangan di pasar modal. Ia memprediksi nilai perdagangan hanya sekitar Rp 3 triliun.

“Transaksinya sudah menurun, mungkin saham lapis kedua yang berpotensi naik,” ujarnya.

EFRI RITONGA