foto

Warga menyaksikan sisa material abu vulkanis yang dimuntahkan gunung tersebut, pascapeningkatan aktivitas vulkanisnya. ANTARA/Achunk

Pengungsi Gamalama Kekurangan Selimut  

TEMPO.CO, Ternata - Ribuan pengungsi banjir lahar dingin Gunung Gamalama yang tersebar di sembilan pos pengungsian mengalami kekurangan selimut dan tikar. Bahkan, puluhan pengungsi usia lanjut terpaksa dibawa ke rumah sakit akibat terserang demam tinggi.

Menurut Zainab Ismail, 47 tahun, salah seorang pengungsi warga Kelurahan Tubo, karena kekurangan selimut dan tikar, warga Kelurahan Tubo yang mengungsi terpaksa mengunakan kasdus kosong sebagai pelindung. Selain itu, banyak warga yang juga terpaksa tidur dengan keadaan basah.

"Kami minta supaya pemerintah menyediakan tikar dan selimut. Apalagi yang di pos pengungsian ini banyak anak-anak dan orang tua. Jadi, harus cepat ditangani," kata Zainab kepada Tempo Rabu, 28 Desember 2011.

Umar, 45 tahun, warga Kelurahan Salahudin mengatakan seharusnya siang hari selimut dan tikar sudah dibagikan. "Tapi hingga sore ini tidak ada selimut dan tikar satu lembar pun. Jadi, kami minta pemerintah tolong bergerak cepat," ujarnya.

Selain selimut dan tikar, Pemerintah Kota Ternate juga diharapkan bisa menyediakan makanan siap saji untuk pengungsi. Banyak pengungsi tidak makan sejak Selasa malam. "Dapur umum pun harus segera dibangun. Ini penting biar kami tidak kelaparan," Umar melanjutkan.

Wali Kota Ternate Burhan Abdurahman mengatakan pemerintah kota pada prinsipnya telah melakukan langkah tanggap darurat semaksimal mungkin. Ia menolak jika dianggap tidak tanggap terkait bencana.

"Saya rasa kami sudah berusaha maksimal. Dan saat ini pun kami sedang menyiapkan kebutuhan dasar untuk pengungsi, termasuk di dalamnya selimut dan tikar," kata Burhan kepada Tempo, Rabu, 28 Desember 2011.

Sebelumnya, Selasa, 27 Desember 2011, banjir lahar dingin Gunung Gamalama menerjang empat kelurahan di Ternate. Akibatnya, tiga warga Kelurahan Tubo tewas dan lima luka-luka. Selain itu, puluhan rumah warga dan fasilitas umum rusak berat.

BUDHY NURGIANTO