Keren, Ponsel Darurat Bisa Menyala Hingga 15 Tahun
Sains yang memberi kontribusi besar bagi kehidupan manusia zaman sekarang bukanlah ilmu pengetahuan yang langsung ada seperti saat ini. Sains tumbuh bersama perkembangan kebudayaan manusia. Sains berkembang berkat kerja keras para raksasa yang terus menga
Foto: Supriyantho Khafid
TEMPO.CO , Mataram - Sebuah upaya konservasi penyu ada di Pantai Maluk, Sumbawa Barat. Di kawasan wisata yang dibangun sejak beroperasinya tambang PT Newmont Nusa Tenggara tersebut, berdiri sebuah bangunan beratap yang menaungi empat bak kolam tukik (anak penyu).
Setiap bak memiliki ukuran lebar 1,5 meter dan panjang 4 meter. Di sana juga ada dua bak pasir untuk penangkaran. Satu bak memiliki lebar 2 meter dan panjang 8 meter, sementara satu bak lainnya memiliki lebar 5 meter dan panjang 5 meter.
Bangunan yang dibuka sejak 2009 dan disebut sebagai Maluk Turtle Conservation Center (MTCC) itu kini dikelola oleh Yayasan Pelangi Biru (YPB). Pemimpinnya Herman Taha.
Kini di dalam dua bak yang ada di sana, terdapat 298 ekor tukik berumur 2-3 bulan. Sebelumnya, MTCC sudah melepas 13.639 ekor tukik di berbagai lokasi mulai dari Pantai Maluk di Pulau Gili Kenawa atau di Pantai Goa Sumbawa Besar.
Ini adalah sebuah upaya konservasi yang digagas departemen lingkungan dari perusahaan tambang yang menambang Batu Hijau di Kecamatan Jereweh sejak Juli 2000. MTCC adalah tambahan obyek wisata setelah dibangun kawasan wisata Pantai Maluk yang menggunakan dana Rp 250 juta. Di sana ada 10 buah brugak (tempat berteduh) ditempatkan di pinggir pantai dan enam warung.
Tidak hanya itu. Di sana akan disediakan fasilitas lapangan voli pantai, juga taman bermain anak-anak senilai Rp 45 juta. Juga disiapkan toilet, kamar mandi, dan pancuran air.
Menurut Herman Taha, penangkaran penyu tersebut mengandalkan setoran telur penyu dari nelayan yang mendapatkannya dari berbagai lokasi. Penyu didapat di antaranya dari Pantai Balas di seberang Maluk dan Pantai Talonang di Satuan Pemukiman 3 Transmigrasi di Talonang. ‘’Kami mengganti penemuan telur tersebut dengan mi dan beras,’’ kata Herman Taha kepada Tempo, Kamis, 22 Desember 2011 lalu. Sebutir telur dihargai Rp 4 ribu.
Penyelamatan telur penyu dilakukan untuk mengimbangi penjualan di pasar yang cukup tinggi. Tanpa menyebut jumlah butirnya, Herman mengatakan setiap hari ada 10 persen dari temuan telur penyu di pantai yang diperdagangkan di pasar. Sekarang separuhnya bisa diselamatkan melalui penangkaran tersebut.
Untuk membiayainya, YPB mendapatkan subsidi dari perusahaan tambang. Tahun 2011 ini sebanyak Rp175 juta digunakan untuk pembiayaan tiga orang staf YPB dan pemeliharaan tukik tersebut. Untuk pakan tukik, YPB membelanjakan dananya untuk membeli enam kilogram ikan-ikan kecil keperluan dua kali sehari.
Selama ini, penetasan telur penyu tersebut dibimbing oleh Koordinator Pemantauan Penyu Departemen Lingkungan PT Newmont Nusa Tenggara Muhammad Salamuddin Yusuf. ''''Jadi, pengembangan wisata penyu ini adalah lanjutan kepedulian kami terhadap penyu di sana,'''' ujar Muhammad Salamuddin Yusuf, beberapa waktu lalu.
SUPRIYANTHO KHAFID

