foto

Tempo/Andry Prasetyo

Nasib TKI Tuti Tergantung Lobi Habibie

TEMPO.CO, Jakarta - Nasib Tuti Tursilawati, tenaga kerja wanita asal Majalengka, Jawa Barat, yang divonis hukuman mati oleh Pengadilan Arab Saudi, belum menemukan titik terang. Hingga saat ini keluarga korban belum memberikan maaf sebagai syarat gugurnya hukum qishas atau hukuman pancung.



"Kami masih menunggu hasil pendekatan yang dilakukan tim Pak Habibie" kata Ketua Satuan Tugas TKI Maftuh Basyuni di Jakarta, Rabu 28 Desember 2011. "Namun kami optimistis akan mendapat pengampunan."



Tuti Tursilawati, 29 tahun, tenaga kerja Indonesia asal Desa Cikeusik, Majalengka, Jawa Barat, divonis mati pengadilan Arab Saudi pada Juni 2011 dengan tuduhan membunuh dan mencuri uang majikannya sebesar 31 ribu riyal. "Pembunuhan itu tak sengaja karena Tuti membela diri dari upaya pemerkosaan majikannya," kata Ketua Umum Serikat Buruh Migran Indonesia Nisma Abdullah.



Menurut Maftuh, kasus yang dihadapi Tuti tergolong berat, termasuk dari sisi pembelaannya. Majikan Tuti, yang juga keluarga korban, hingga saat ini berkukuh pada vonis mati yang dijatuhkan pengadilan.



Di Arab Saudi, jika vonis mati telah dijatuhkan, tidak ada yang bisa dilakukan selain meminta pemaafan dari keluarga atau ahli waris. " Bahkan raja pun tak bisa memberikan pengampunan," ujarnya



.Karena itu, Maftuh mengaku pemerintah sudah berupaya maksimal, termasuk menghadirkan mantan presiden B.J. Habibie untuk melobi Kerajaan Arab Saudi guna membujuk keluarga korban.



Raja Arab bahkan sudah membentuk panitia lobi untuk mendekati keluarga korban. " Alhamdulillah, Raja Arab mengerti dan berusaha membujuk keluarga korban" kata Maftuh. "Kami optimistis upaya pemerintah dan Kerajaan Arab Saudi membawa hasil."



Tim lobi yang dipimpin B.J. Habibie, kata Kepala Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia Mohamad Jumhur Hidayat, juga kini telah menemui Pangeran Al-Walid bin Talal Al-Saud, bos Kingdom Holding Co. Kepada Habibie, yang menemuinya Ahad lalu, Al-Walid berjanji membantu Tuti.




AYU CIPTA | DIMAS SIREGAR